Hanembah Maring Gusti Allah

++++ Generasi Muda Untuk Bangsa ++++ Selamatkan Generasi Muda dari NARKOBA ++++

Keris, Artefak Budaya Bernilai Tinggi

Keris adalah jenis senjata tikam berukuran pendek yang dikenal di Nusantara. Pada umumnya keris dipakai di pinggang belakang sebelah kanan. Selain sebagai senjata, keris juga berfungsi sebagai karya seni yang bernilai tinggi. 

Keris mempunyai keindahan bentuk yang artistik. Pembuatan keris memerlukan ketekunan dan keterampilan yang khusus. Orang yang memiliki cita rasa seni tinggi pasti akan mengagumi keris sebagai artefak budaya yang berharga.
Keris tidak hanya berkembang di wilayah Nusantara, tapi juga meliputi kawasan Asia Tenggara, seperti Malaysia, Filipina, Thailand, dan negeri-negeri sekitarnya. Berdasarkan gambar dan relief-relief pada candi-candi di Jawa, keris sudah dikenali orang Jawa sejak abad ke-5 M. 
 
Bukti tersebut terdapat pada prasasti batu yang ditemui di Desa Dakuwu, Grabag, dan Magelang yang dibuat sekitar tahun 500 M dan tertulis dalam huruf Pallawa yang menggunakan bahasa Sansekerta.
Keris di Jawa semakin berkembang setelah pengaruh kebudayaan India masuk sekitar abad ke-5 M. Pengaruh itu dapat dilihat pada gambar yang terdapat di relief candi Borobudur dan candi Prambanan, Jawa Tengah.
Bentuk dan ukuran keris bermacam-macam. Ukuran keris di Jawa pada umumnya berkisar 33-38 cm. Namun, di luar Jawa banyak keris yang berukuran lebih panjang, mencapai 58 cm.
Bentuk keris ada yang bilahnya berkelok-kelok (keloknya selalu berjumlah ganjil), ada pula yang berbilah lurus. Perbedaan bentuk ini memiliki nilai yang berbeda pula.

Bagian-Bagian dari Keris
Pada umumnya keris terdiri atas tiga bagian, yaitu pegangan keris atau hulu keris, warangka atau sarung keris, dan wilah atau wilahan.
  1. Pegangan keris atau hulu keris, dalam bahasa Jawa disebut gaman. Yaitu, tempat di mana tangan memegang keris saat digunakan. Bentuk pegangan keris bermacam-macam, ada yang bermotif, ada juga yang berukir.
  2. Warangka adalah sarung keris. Karena warangka adalah bagian keris yang paling dulu terlihat, maka warangka menempati fungsi yang melambangkan kelas tertentu. Pada awalnya warangka terbuat dari kayu, selanjutnya seiring dengan fungsinya sebagai cerminan kelas sosial penggunanya, pada bagian atas warangka terbuat dari gading.
  3. Wilah atau wilahan adalah bagian utama keris. Pada bagian ini, wilah bisa berbentuk lurus atau berkelok-kelok (atau disebut luk) dengan ujung yang dibuat meruncing.
Keris-keris Ternama
Contoh nama-nama keris terkenal yang mewarnai sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara seperti Tumapel, Majapahit, Mataram, Pajang, Demak, Surakarta, Yogyakarta, dan lain-lain, di antaranya adalah:
  • Keris Empu Gandring,
  • Kyai Sengkelat,
  • Pusaka Nagasasra dan Sabuk Inten,
  • Kyai Setan Kober,
  • Si Ginje, dan lain.
Dalam kebudayaan Jawa, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata penusuk, tetapi juga sering dianggap sebagai artefak pusaka yang mempunyai kekuatan magis atau kekuatan supranatural. Bahkan keris juga dapat menjadi perlambang kehormatan bagi pemakainya.
Selain itu, keris juga artefak sejarah yang turut mewarnai kerumitan perjalanan sejarah Nusantara (Garret & Solyom, 1978). Kini, keris Indonesia telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi.
 
Copyright Cangkrukan NengRat_an © 2010 - All right reserved - Using Blueceria Blogspot Theme
Best viewed with Mozilla, IE, Google Chrome and Opera.| ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free