Hanembah Maring Gusti Allah

++++ Generasi Muda Untuk Bangsa ++++ Selamatkan Generasi Muda dari NARKOBA ++++
Showing posts with label Anak. Show all posts
Showing posts with label Anak. Show all posts

Pertolongan Pertama pada Luka Bakar Ringan – Sedang

Luka bakar dapat terjadi secara tiba-tiba dan selalu membuat panik orangtua. Sesungguhnya luka bakar tidak selalu disebabkan oleh api saja, listrik atau zat kimia seperti asam dan basa kuat dapat juga menyebab luka bakar.

Jenis luka bakar

Berdasarkan derajat keparahan (luas luka dan kedalaman), luka bakar dapat dibagi menjadi luka bakar ringan, sedang dan berat. Luka bakar luas dan dalam, yang mengenai alat kelamin, sendi utama tubuh, telapak tangan dan kaki, daerah muka serta terdapat kecurigaan adanya panas yang terhirup ke saluran pernapasan atau pencernaan tergolong luka bakar berat. Luka bakar berat membutuhkan perawatan di rumah sakit sehingga orangtua harus membawa anak ke rumah sakit. Lebih dari 95% luka bakar yang terjadi di rumah, tergolong ringan dan sedang. Luka bakar jenis ini memiliki luas luka bakar kurang dari 10% (luas luka bakar 1% sama dengan luas permukaan telapak tangan anak) dengan karakteristik luka mulai dari kemerahan hingga terbentuk bula (gambar 1 dan 2).
luka bakar 1
Gambar 1. Luka bakar ringan.  Luka bakar superfisial yang tidak luas. Luka tampak kemerahan yang memucat bila ditekan.

luka bakar 2.jpgluka bakar 3

 
Gambar 2. Luka bakar sedang. Luka dengan karakteristik berupa bula dengan dasar pucat atau kemerahan.
Perawatan luka bakar ringan (superfisial dan terlokalisir) dapat dilakukan di rumah dan tidak memerlukan perawatan di rumah sakit. Sementara itu untuk luka bakar sedang, orangtua tetap perlu membawa anak ke dokter untuk mendapat evaluasi dan penilaian luka dari dokter namun perawatan luka selanjutnya dapat dilakukan di rumah.

Pertolongan pertama pada luka bakar

  1. Prinsip pertama yang harus diingat orangtua apabila anak tersiram air panas atau tanpa sengaja tersentuh api atau benda panas lainnya adalah jangan panik dan segera jauhkan anak dari sumber panas.
  2. Dinginkan bagian tubuh yang terkena luka bakar dengan air mengalir selama 10-20 menit. Tidak dianjurkan menggunakan air es ataupun menambahkan bahan lain seperti mentega atau kecap karena dapat mengiritasi kulit yang terbakar dan menyebabkan kerusakan jaringan lebih lanjut.
  3. Lakukan penilaian jenis luka bakar. Apabila dalam penilaian dilihat luka bakar tersebut tergolong ringan, lanjut dinginkan dengan air mengalir hingga 20 menit. Namun bila ditemukan bula pada luka bakar, segera bawa anak ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan luka lebih lanjut.
  4. Berikan salep pelembab, seperti salep yang mengandung aloe vera pada luka bakar ringan. Lakukan perawatan luka bakar secara terbuka, tidak perlu ditutup kasa.
  5. obat anti-nyeri seperti Parasetamol dapat diberikan pada anak apabila dalam observasi di rumah anak mengeluh sakit dan rewel.

Luka bakar ringan akan sembuh dalam waktu kurang dari 6 hari. Luka bakar sedang memerlukan waktu yang lebih lama yaitu 20 hari. Kesembuhan luka bakar bergantung pada tatalaksana awal di rumah, oleh sebab itu orangtua harus mengetahui tindakan apa saja yang harus diberikan pada anak mereka apabila mengalami luka bakar.

READMORE - Pertolongan Pertama pada Luka Bakar Ringan – Sedang

CACAR AIR (Varicella, “Chicken Pox”)

Epidemilogi
Insiden terbanyak varisela terjadi pada usia 1-6 tahun dan hanya terjadi 10% pada usia lebih dari 14 tahun. Pada usia 1-14 tahun angka mortalitas varisela adalah 2 per 100.000 kasus. Angka mortalitas pada anak dengan immunocompromised lebih besar. Kejadian varisela dapat menjadi lebih berat pada neonatus, tergantung periode infeksi pada ibu (Mehta, 2006).

Etiologi
Varisela merupakan penyakit infeksi akut, disebabkan oleh varicella zoster virus (VZV). VZV adalah virus DNA yang tergolong dalam group herpesvirus, subfamily Alphaherpesvirinae. VZV mempunyai DNA sekuens sendiri dan amplop glikoprotein. VZV sulit diisolasikan pada kultur sel dan tumbuh paling baik tetapi lambat pada human diploid fibroblast cells (Mehta, 2006; Fox & Sande, 2001, CDC, 2005).


Patofisiologi
Varisela sangat menular, penularannya mencapai 80-90% pada kontak serumah. Transmisi virus varisela zoster dapat terjadi melalui droplet respirasi yang mengandung virus, serta kontak langsung dengan lesi dimana pada papula dan vesikel terdapat populasi yang tinggi dari virus. Varisela infeksius mulai 2 hari sebelum lesi pada kulit muncul dan berakhir ketika muncul krusta, umumnya 5 hari setelahnya. Varisela maternal dengan viremia dapat menyebar secara transplasenta menuju fetus dan menyebabkan varisela neonatus (Mehta, 2006).
VZV masuk melewati traktus respiratorik dan konjungtiva. Kemudian virus bereplikasi di daerah masuknya (nasofaring) dan limfonodi regional di sekitarnya. Viremia primer terjadi 4-6 hari setelah infeksi dan menyebarkan virus ke seluruh organ, seperti liver, limpa, dan ganglia sensori. Replikasi selanjutnya muncul pada visera, diikuti dengan viremia sekunder, dengan infeksi virus pada kulit (CDC, 2005).


Faktor Resiko
Faktor resiko yang mendukung terjadinya varisela berat, meliputi (Mehta, 2006):
  1. Neonatus, terutama pada ibu yang seronegatif.
  2. Usia dewasa
  3. Terapi steroid
  4. Keganasan
  5. Kondisi immunocompromised
  6. Kehamilan


Manifestasi Klinis
Inkubasi : Berlangsung selama 10-14 hari
Prodromal :
  1. Terjadi pada hari 1 hingga hari ke 3
  2. Berupa nyeri perut, sakit kepala, anoreksia, batuk dan coryza, sakit tenggorokan, perasaan lemah (malaise)
  3. Kadang-kadang terdapat kelainan scarlatinaform atau morbiliform

Erupsi (rash):
  1. Pada anak yang sehat terdapat sekitar 250-500 lesi.
  2. Dimulai dengan gejala-gejala sistemik ringan diikuti dengan munculnya makula-makula merah (seperti embun di atas mahkota mawar merah) yang kemudian dengan cepat berubah menjadi vesikel kecil dengan tepi yang eritema, berisi cairan jernih, tidak memperlihatkan cekungan di tengah (unumbilicated). Kemudian menjadi pustula, dan terakhir menjadi krusta.
  3. Isi vesikel berubah menjadi keruh dalam 24 jam.
  4. Biasanya vesikel menjadi kering sebelum isinya menjadi keruh.
  5. Dalam 3-4 hari erupsi tersebar. Ruam pada umumnya muncul di kepala dan telinga, kemudian menyebar secara sentrifugal ke wajah, leher, badan dan ekstremitas.
  6. Erupsi ini disertai perasaan gatal.
  7. Pada suatu saat terdapat bermacam-macam stadium erupsi; ini merupakan tanda khas penyakit varisela.
  8. Vesikel tidak hanya terdapat di kulit melainkan juga di selaput lendir mulut, dan beberapa terlihat di orofaring.

Konvalescen:
Lesi biasanya pecah membentuk krusta setelah 6 hari (2-12 hari) dan sembuh sempurna dalam 16 hari (7-34 hari). Erupsi yang berkepanjangan atau lamanya pembentukan krusta dan penyembuhan dapat terjadi pada imunitas seluler yang tidak cocok.


Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium tidak dibutuhkan untuk diagnosis karena varisela dapat terlihat dari gejala klinis. Kebanyakan pada anak-anak dengan varisela terjadi leukopeni pada 3 hari pertama, kemudian diikuti dengan leukositosis. Leukositosis mengindikasikan adanya infeksi bakteri sekunder, tetapi tidak selalu. Kebanyakan pada anak-anak dengan infeksi bakteri sekunder tidak terjadi leukositosis.
Pemeriksaan serologi digunakan untuk mengkonfirmasi infeksi yang lalu untuk menentukan status kerentanan pasien. Hal ini berguna untuk menentukan terapi pencegahan pada dewasa yang terekspos dengan varisela. Identifikasi virus varisela zoster secara cepat diindikasikan pada kasus yang parah atau penyakit belum jelas yang membutuhkan pengobatan antiviral dengan cepat. Metode yang paling spesifik yang digunakan adalah Indirect Fluorescent Antibody (IFA), Fluorescent Antibody to Membrane Antigen (FAMA), Neutralization Test (NT), dan Radioimmunoassay (RIA). Tes serologis tidak diperlukan pada anak, karena infeksi pertama memberikan imunitas yang pasti pada anak.


Radiologi
Foto toraks : Anak-anak dengan suhu yang tinggi dan gangguan respirasi seharusnya dilakukan foto toraks untuk mengkonfirmasi atau menyingkirkan adanya pneumonia.


Diagnosa Banding
Beberapa penyakit mempunyai ruam yang sama dengan varisela antara lain (William, 2002; Mehta, 2006):
  1. Small pox/ cacar (ruam terkonsentrasi pada ekstremitas dan muncul pada fase yang sama)
  2. Infeksi coxsackie virus (lebih sedikit ruam dan tidak menyebabkan krusta)
  3. Impetigo (lebih sedikit ruam, tidak ada vesikel klasik, pewarnaan gram positif, respon terhadap agen antimikroba, lesi perioral atau periferal)
  4. Papular urtikaria (riwayat gigitan serangga, ruam nonvesikuler)
  5. Skabies (tidak ada vesikel yang khas)
  6. Parapsoaris (jarang terjadi pada anak di bawah 10 tahun, kronik atau rekuren, sering terdapat riwayat varisella sebelumnya)
  7. Ricketsialpox (bekas gigitan kutu, ruam yang lebih kecil, tidak berkrusta), dermatitis herpetiformis (urtikaria kronis, pigmentasi residual)
  8. Dermatitis kontak
  9. Infeksi enterovirus
  10. Infeksi Herpes Simplex Virus


Komplikasi
Resiko komplikasi varisela bervariasi berdasarkan umur. Komplikasi jarang terjadi pada anak-anak yang sehat, namun sering mengenai orang-orang dewasa di atas 15 tahun dan bayi di bawah 1 tahun (CDC, 2005).
  1. Infeksi Bakteri Sekunder. Varisela menyebabkan pasien lebih mudah menderita infeksi bakteri sekunder.
  2. Komplikasi pada CNS (sistem saraf pusat)
  3. Pneumonia. Pneumonia biasa terjadi pada penderita yang imunocompremised, wanita hamil, atau dewasa dan sering menjadi fatal. Batuk, dyspnea, tacyphnea, rales, dan sianosis muncul 3-4 hari setelah onset dari ruam.
  4. Herpes zoster. Merupakan komplikasi yang lambat terjadi pada varisela, yaitu beberapa bulan sampai tahun setelah infeksi primer. Terjadi pada 15% pasien varisela. Disebabkan oleh adanya virus yang menetap di ganglion sensoris. Gejalanya rash vesikular unilateral, terbatas pada 1-3 dermatom. Rash ini menimbulkan rasa nyeri pada anak-anak yang lebih tua dan dewasa.
  5. Otitis media (5%)
  6. Hepatitis
  7. Hepatitis berat dengan manifestasi klinis jarang terjadi pada anak-anak sehat dengan varisela.
  8. Glomerulonefritis
  9. Haemorrhagic varicella

Terapi
Terapi yang diberikan pada varisela bersifat suportif, meliputi (Mehta, 2006; William, 2002):
  1. Penjagaan hidrasi pada anak diperlukan, karena saat anak sakit nafsu makan berkurang. Pada anak yang mendapat pengobatan Ancyclovir, obat akan mengkristal di tubulus renalis, sehingga perlu hidrasi yang adekuat.
  2. Kebersihan menyeluruh tetap harus dijaga (memotong kuku dan membersihkan badan). Melarang anak menggaruk ruam untuk menghindari skar pada kulit. Memotong kuku, memakaikan sarung tangan dan kaos kaki saat tidur dapat menghindarkan garukan pada ruam.
  3. Pemberian makanan yang sehat dan bergizi, tanpa pembatasan makanan.
  4. Tidak ada pembatasan aktivitas pada anak-anak dengan varisela tanpa komplikasi.
  5. Kompres dingin, mandi yang teratur untuk mengurangi gatal
  6. Obat antiviral
  7. Obat antihistamin
  8. Obat antipiretik

Prognosa
Anak-anak sehat dengan varisela mempunyai prognosa baik. Sedangkan anak-anak yang imunocompremise mempunyai resiko yang lebih besar untuk menjadi parah dan meninggal. Angka mortalitas pada varisela neonatus mencapai 30%. Episode ulangan varisela jarang terjadi oleh karena imunitasnya yang bertahan seumur hidup
READMORE - CACAR AIR (Varicella, “Chicken Pox”)

Diare Akut

Batasan

Epidemiologis : merupakan kumpulan penyakit dengan gejala diare, yaitu defekasi dengan feses cair atau lembek dengan/tanpa lendir atau darah, dengan frekuensi 3 kali atau lebih sehari. berlangsung belum lebih dari 14 hari, kurang dari 4 episode/bulan

Klinis : merupakan diare yaitu berak dengan kandungan air lebih dari nonnal atau  disertai darah/lendir ataubila orang tua menganggap anaknya menderita berak-berak.



Indikasi rawat penderita diare akut
1.   Diare akut dehidrasi ringan, ringan sedang dengan berak-berak dan muntah profuse dan upaya rehidrasi oral di RPO gagal, atau disertai penyakit penyerta yang memerlukan perawatan di rumah sakit.
2.   Diare akut dehidrasi berat.

Tujuan perawatan dan pengobatan penderita diare akut
1.  Melakukan koreksi terhadap kehilangan cairan dan elektrolit
2.  Melakukan feeding adjustment
3.  Memberikan pengobatan medikamentosa
· Pengobatan terhadap kausa
· Pengobatan terhadap penyakit penyerta/penyulit
· Pengobatan penunjang/simptomatik yang diperlukan
4.  Memberikan health education :

Terapi cairan dan e1ektrolit:
Koreksi cairan dan e1ektrolit dibedakan 2 macam:
1. Pada diare akut murni
2. Pada diare akut dengan penyulit/komplikasi
Ad 1. Pada diare akut murni:
Ditujukan untuk: 
·    Rehidrasi        : mengganti previous water losses dengan IVFD/NGT
·    Maintenance   : mencegah dehidrasi dengan mengganti on going water losses dengan oralit
                 peroral/CRO
·    Requirement   : dengan makan dan minum seperti biasa
Ad 2. Pada diare akut dengan penyulit:
Menggunakan modifikasi Sutejo dengan cairan yang mengandung:
·   Na      : 63,3 mEq/L
·   K        : 10,4mEq/L
·   CI       : 61,4 mEq/L
·   HCO3  : 12,6 mEq/L
·   Kalori  : 200 kalori
Yang terdiri dari NaCl 15% 10 cc, KC1 10% 4 cc, NaHCO3 2,5% 7 cc dalam 500 cc D5%.
Koreksi maupun maintenans diberikan secara IV dengan kecepatan:
a)     Diare akut dengan penyulit dengan dehidrasi ringan-sedang
·  4 jam I             :   50 cc/kg BB
·  20 jam II          : 150 cc/kgBB
b)     Diare akut dengan penyulit dehidrasi berat
·  4 jam I             : 60 cc/kg BB
·  20 jam II          : 190 cc/kgBB

Bentuk penyulit, jenis dan jumlah cairan dilihat pada skema 2.  Terapi diet lihat skema 1 .

Terapi medikamentosa

Obat-obatan antimikroba termasuk antibiotik tidak dipakai secara rutin pada penyakit diare akut. Patokan pemberian antimikroba/antibiotika adalah sebagai berikut:
1. Kolera
2. Diare bakterial invasive
3. Diare dengan penyakit penyerta
4. Diare karena parasit/jamur

Ad. 1. Kolera
Semua penderita yang secara klinis dicurigai kolera diberi Tetrasiklin 50mg/kgBB/hari dibagi 4 dosis selama 3 hari.

Ad. 2. Diare bakterial invasif
Secara klinis didiagnosis jika:
·  Panas lebih dari 38,5 C
·  Ada meteorismus
·  Ada lendir dan darah dalam tinja secara makroskopis maupun mikroskopis
·  Lekosit dalam tinja secara mikroskopis lebih dari 10/lpb atau ++.

Antibiotika yang dipakai sementara menunggu hasil kultur:
·    K1inis diduga kearah Salmonella diberikan Kloramfenikol 100 mg/kgBB/hari dibagi 4 dosis selama 10 hari.
·    K1inis diduga ke arah Shigella diberi Nalidixid acid 85mg/kgBB/hari diberi 4 dosis selama 10 hari atau Amoksisilin 5Omg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis selama 5 hari.
Ad. 3. Penyakit penyerta diobati sebagaimana mestinya.
Ad. 4 Untuk penyakit parasit diberikan:
  • Amubiasis dibenkan Metronidazole 50 mgtkbBB/hari dibagi dalam 3 dosis selama 5-7 hari.
  • Helminthiasis: untuk Ascaris/Ankylostoma/Oxyuris : pyrantel Pantoate l0mg/kgBB hari dosis tungga1. Untuk Trichuris: Mebendazole 2 x l00 mg selama 3 hari.
  • Giardiasis: Metronidazole 15mg/kgBB/hari selama 5 hari.

Untuk penyebab jamur diberikan:
Candidiasis diberikan Nistatin : - Kurang dari 1 tahun: 4 x 100.000 IU se1ama 5 hari
- Lebih dari 1 tahun : 4 x 300.000 IU se1ama 5 hari
Pemberian Health Education
Pendidikan kesehatan dilakukan pada saat visite dan di ruangan khusus dimana orangtua penderita dikumpulkan. 
Pokok ceramah meliputi:
  • Usaha pencegahan diare dan KKP
  • Usaha pertolongan untuk mencegah dehidrasi pada diare dengan menggunakan oralit dan cairan.
  • Imunisasi
  • Keluarga berencana
Penderita dipulangkan:
  • Bi1a kita yakin ibu sudah dapat/sanggup membuat/memberikan oralit kepada anak dengan cukup wa1aupun diare masih berlangsung.
  • Kausa diare/penyakit penyerta sudah diketahui dan diobati. 
Skema Terapi Cairan dan Pemberian Makanan ada GE Akut Tanpa Penyulit
Patokan koreksi cairan melalui NGD (Nasogastrik Drip) adalah:
  • Nadi masih dapat diraba dan masih dapat dihitung
  • Tidak ada meteorismus
  • Tidak ada penyulit yang mengharuskan kita memakai cairan IV atau
  • Menyebabkan pemberian cairan peoral menjadi berbahaya
  • Dikatakan gaga1 jika dalam 1 jam pertama muntah dan diare terlalu banyak atau syok bertambah   berat.

Skema Beberapa Penyulit Gastroenteristis Akut dan Penanggulangannya

Skema Terapi Cairan Dehidrasi Hipertonik


READMORE - Diare Akut

Diare Kronik

Definisi

Diare kronik ada1ah diare berlangsung 14 hari atau lebih, dapat berupa diare cair atau disentri.

Insiden

Pada Indonesian Demographic dan Hea1th Survey, 1994, di1aporkan bahwa preva1ensi diare persisten adalah 0,15 dan diare berdarah adalah 1,2%.

Klasifikasi

Pembagian diare kronik yang didasarkan atas sifat tinja-berair, berlemak atau berdarah, menurut Arasu dkk (1979) akan lebih dapat membantu menghadapi masalah diare kronik. Klasifikasi diare kronik pada bayi dan anak adalah sebagai berikut:

A.  Watery stools atau tinja cair
1.  Gastroenteropati a1ergi
·    Alergi protein susu sapi
·    Alergi protein kedele
2. a. Defisiensi disakaridase
·    Defisiensi lactase - sering sekunder
·    Defisiensi sucrose -isomaltase
b. Ma1aosolusi glukosa -galaktosa
  1. Defek imun primer
  2. Infeksi usus oleh virus, bakteri dan parasit (giardin)
  3. CSBS ( contaminated sma1l bowel syndrome )
·   Obstruksi usus, ma1rotasi, short bowel syndrome, dll
·   Penyakit Hirsprung, enterckolitis
  1. Persistent postenteriting diarrhoea dengan atau tanpa intoleransi karbohidrat
  2. Diare sehubungan dengan penyakit endokrin
·   Hiperparlitiroidism
·   Insufisiensi adrena1
·   Diabetes melitus
  1. Diare sehubuugan dengan tumor
·   Karsinoma medu1a tiroid
·   Ganglionewoma
·   Zol/inger-E1lison syndrome
  1.  Ma1absorhsi asam empede
·   Cholerrhoeic diarrhoea

B.   Fattty stools atau tinja berlernak
1.   Insufisiensi pancreas, PEM, BBLR
·     Hipoplasia (Swachman Syndrome)
·     Cystic fibrosis. celiac disease
2.    Limfangiektasi usus
3.    Kolestsis
·    Atresia biliaris ekstra atau intrahepatik
·    Hepatitis neonatal
·    Sirosis hepatis
4.  Steatorea akibat obat (misa1: neomisin, kolestiramin)
5.  CSBS: -Short bowel syndrome
6.   Gastroenteropati alergi, defek imun primer, enteropati akrodennatitis, anemia defisiensi besi.
C.   Bloody stools atau tinja berdarah
1. V. campylobacter, Saimonella, Shigella
2.  Disentri amuba
3.  Inflammatory bowel disease
·    Kolitis ulseratif
·    Penyakit Chron
4.  Enterokolitis pseudomembranosa
5.  Diare sehubungan dengan lesi anal
Patofisiologi
Mekanisme patofisiologi diare kronik bergantung penyakit dasarya dan sering terdapat lebih dari satu mekanisme, yaitu : (Arasu dkk. 1979)
a.  Diare osmotic
b.  Diare sekretorik
c.  Bakteri tumbuh lampau, malabsorbsi asam empedu, malabsorbsi lemak
d.  Defek sistem pertukaran anion
e.  Kerusakan mukosa
f.   Motilitas dan transit abnormal
g.  Sindrom diare intraktabel
h.  Mekanisme-mekanisme lain.

Berdasarkan patogenesis dan patofisiologinya, diare kronik diklasifikasikan menjadi:
1.   Diare persisten, yaitu diare yang melanjut/menetap sampai 2 minggu atau lebih dan disebabkan oleh infeksi serta sering disertai gangguan pertumbuhan.
2. Sindroma rawan usus SUS (SRU)/Irritable bowel syndrome (lRS), yaitu suatu sindrom klinis yang menyebabkan diare kronik non spesifik pada anak yang tampaknya sehat, tidak ditemukan adanya kelainan organik.
3.  Diare intraktibel bayi (Intractable diarrhea ofinfancy), yaitu bayi dengan diare yang berhubungan dengan kerusakan mukosa yang difus yang timbul sebelum bayi berusia 6 bulan, berlangsung lebih dari 2 minggu. disertai malabsorbsi dan malnutrisi.  Berbagai penyakit dapat menyebabkan diare yang sulit diatasi, melanjutkan kerusakan mukosa usus halus, yang merupakan penyebab utama dari diare intraktabel ini.
Diagnosa dan Evaluasi
1.  Riwayat penyakit: saat mulainya diare, frekuensi diare, kondisi tinja meliputi penampakan, konsistensi, adanya darah atau lender, gejala ekstraintestinal seperti gejala infeksi saluran pernafasan bagian atasfailure to thrive sejak lahir (cystic fibrosis), terjadinya diare sesudah diberikan susu. Buah-buahan (defisiensi sukrase-isomerase), hubungan dengan serangan sakit perut dan muntah (malrotasi), diare sesudah gangguan emosi atau kecemasan (irritable colon syndrome), riwayat pengobatan antibiotika sebelumnya (euterokolitis pseudomembranosa )

2.   Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan yang cermat keadaan umum pasien, status dehidrasi, pemeriksaan abdomen, ekskoriasi pada bokong, manifestasi kulit. juga penting untuk mengukur berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, perbandingan berat badan terhadap tinggi badan, gejala kehilangan berat badan, menilai kurva pertumbuhan, dan sebagainya.

3.   Pemeriksaan laboratoris
a.   Pemeriksaan tinja
Ø  Makroskopis: warna, konsistensi, adanya darah, lendir
Ø  Mikroskopis: 
·    Darah samar dan leukosit yang positif (> l0/lpb) menunjukkan kemungkinan adanya peradangan pada kolon bagian bawah. 
·    pH tinja yang rendah menunjukkan adanya maldigesti dan malabsorbsi karbohidrat di dalam usus kecil yang diikuti fermentasi oleh bakteri yang ada di dalam kolon. 
·   Clinitest, untuk memeriksa adanya substansi reduksi dalam sample tinja yang masih baru, yang menunjukkan adanya malabsorbsi karbohidrat. 
·     Breath hydrogen test, digunakan untuk evaluasi malabsorbsi karbohidrat 
·   Uji kualitatif ekskresi lemak di dalam tinja dengan pengecatan butir lemak, merupakan skrining yang cepat dan sederhana untuk menentukan adanya malabsorbsi lemak. 
·     Biakan kuman dalam tinja, untuk mendapat informasi tentang flora usus dan kontaminasi 
·    Pemeriksaan parasit (Giardia lamblia, cacing)
    b. Pemeriksaan darab: darah rutin, elektrolit (Na, K; Cl) dan bicarbonate, albumin, kadang diperlukan pemeriksaan kadar serum, dll.
    4.   Pemeriksaan radiologi
    Pemeriksaan radiologi saluran gastrointestinal membantu mengidentifikasi cacat bawaan (malrotasi, stenosis) dan kelainan-kelainan seperti limfangiektasis, inflammatory bowel disease, penyakit Hirschprung, enterokolitis nekrotikans.

    Penatalaksanaan 
    1.      Umum dan Dietetik
    a.  Nutrisi enteral
    ·    Alimentasi enteral merupakan cara yang paling efektif dan dapat diterima untuk mempertahankan dan mencukupi kebutuhan nutrisi penderita anak dengan saluran pencernaan yang masih berfungsi jalur enteral dapat ditempuh melalui oral atau nasograstrik, nasojejunal, gastrostomi atau jejunostomi dengan feeding tube
    ·    Pemilihan formula diet yang diberikan secara enteral dapat dikategorisasikan dalam 3 macam diet:
    a)   Diet polimerik, yang mengandung protein sebagai sumber protein dan dipakai untuk pasien dengan fungsi usus yang normal.
    b)  Diet elemental, yang mengandung nutrient dengan berat molekul rendah dan dipakai untuk pasien dengan gangguan fungsi gadtrointestinal.
    c)   Diet formula khusus, yang mengandung kadar tinggi asam amino rantai bercabang untuk pemakaian pada elsefolapati hepatic dan pasien dengan perubahan kadar asam amino lain atau kesalahan metabolisme bawaan (inborn errors of metabolism)
    ·        Kandungan formula yang ditetapkan meliputi:
    a)   Karbohidrat
    Karbohidrat akan dipecah oleh enzim oligosakaridase dalam mikrovili menjadi monosakarida yang akan diabsorbsi ke dalam enterosit. Terdapat 4 enzim  oligosakaridase yang berbeda dalam mikrovili yaitu maltase (glukosa amilase (glukosa a-dekstrinase), lactase dan trehalase. Semua enzim ini berkurang pada penyakit yang mengenai mukosa usus halus. Lactase merupakan enzim yang paling peka dan paling akhir pulih apabila terjadi kerusakan mukosa.
    b)   Lemak
    Lemak merupakan nutrient yang paling padat kandungan kalorinya. Pemberian lemak pada penderita diare kronik sangat penting karena sering disertai keterbatasan pemasukan kalori.
    c)   Protein
    Kebutuhan anak akan protein dapat dipenuhi dengan penggunaan protein utuh. protein hidrolisat, asam amino atau gabungan.
    d)  Vitamin dan mineral
    Kekurangan vitamin dan mineral dapat terjadi pada anak kendatipun dan pemasukan kalori yang cukup apabila terdapat malabsorbsi lemak. atau terjadi interaksi obat/nutrient dengan diet yang sangat khusus.
    ·   Formula yang paling baik diberikan pada diare kronik ialah yang mengandung glukosa primer, bebas laktosa mengandung protein hidrolisat, medium chain triglyceride, osmolaritas kurang sedikit dari 600 mOsm/l. dan bersifat hipoalergik. (Pregestimil). atau yang mengandung short chain peptide (Pepti Yunior).
    ·    Menaikkan konsentrasi formula dilakukan perlahan-lahan. mula-mula dianjurkan konsentrasi 1/3 IV. selanjutnya dinaikkan menjadi 2/3 oral: 1/3 IV. dan bila keadaan sudah cukup baik (kenaikan BB minimal 1 kg) diberikan pregestimil dalam konsentrasi penuh.
    ·   Pemberian melalui pipa nasagastrik diperlukan apabila bayi/anak tidak mampu atau tidak mau menerima makanan secara oral, namun keadaan saluran gastrointestinalnya masih berfungsi. Pemberian nutrisi dilakukan dengan meningkatkan kecepatan dan kadar formula secara bertahap sampai mencapai kebutuhan nutrisi anak.
    ·    Komplikasi nutrisi enteral:
    F  Hidrasi berlebih
    F  Hiperglikemia
    F  Azotemia (konsumsi protein berlebih)
    F  Hipervitaminosis K
    F  Dehidrasi sekunder karena diare
    F  Gangguan elektrolit dan mineral (terutama akibat muntah dan diare)
    F  Gagal tumbuh sekunder akibat pemasukan energi tidak cukup.
    F  Aspirasi
    F  Defisiensi nutris sekunder karena kesalahan formula

    b.   Nutrisi Parenteral

    ·    Nutrisi parenteral merupakan teknik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh melalui Jalan intraven. Nutrient khusus terdiri atas air, dekstrosa. asam amino, emu!si lemak. mineral,  vitamin. trace elemen.  Jalur ini jangan digunakan apabila penderita masih mempunyai saluran gastrointestinal yang masih berfungsi serta masih dimungkinkan pemberian secara peroral, enteral atau gastrostorni. Pada umumnya tidak digunakan untuk waktu kurang dari 5 hari.

    Indikasi nutrisi Ament ME, 1993 

    Kebutuhan pada nutrisi parenteral

    a.   Kalori
    Kebutuhan kalori per berat badan (Ament, 1993) 


    Pada beberapa keadaan diperlukan penambahan kebutuhan kalori: panas (12% per setiap setiap kenaikan 1°C di atas 37°C) gagal jantung (15 - 20 %), pembedahan besar (20 -30% kombosio sampai 100%), dan sepsis berat (25%).

    b.   Cairan
    Kebutuhan cairan sesuai umur (Ament ME, 1993) 



    b.   Karbohidrat
    ·   Dekstrosa merupakan sumber utama kalori non protein yang memberikan 3,4 kka1/gram dalam bentuk monohidrat
    ·    Keterbatasannya adalah terjadinya phlebitis apabila kadar > 10 -l2,5%
    ·  emberian dilakukan secara bertahap untuk memberikan kesempatan respon tubuh dalam memproduksi insulin endogen dan mencegah terjadinya glikosuria.

    d.     Asam amino 
           Kebutuhan asam amino menurut usia (Ament ME, 1993 )


     e.    Lemak

    ·   Selain untuk memenuhi kebutuhan kalori, lemak menyediakan asam lemak essensial untuk pertumbuhan bayi dan anak, dan menunjang perkembangan yang normal.
    ·    Preparat lemak intravena tersedia dalam larutan 10% (1 kkal/ml) dan 20% (2 kka1/ml)
    ·  Minimal 2-4% dari kebutuhan kalori total diberikan berupa lemak intravena untuk  menghindariterjaadinya defisiensi asam lemak. yang dapat dicapai dengan penggunaan 0,5-1 gram  emulsi lemak/kg/hari
    ·   Defisiensi asam lemak paling awal terjadi pada neonatus dalam 2 hari dengan tanda kecepatan pertumbuhan yang lambat, kulit kering bersisik, pertumbuhan rambut berkurang. trombositopeni, peka terhadap infeksi dan gangguan penyembuhan luka.


    f.   Elektrolit
         Kebutuhan elektrolit intravena (Ament ME, 1993)

    f.    Trace Element
          Kebutuhan trace element :



    2.      Medika mentosa
    a.  Obat anti diare (kaolin, pectin, difenoksilat) tidak perlu diberikan karena tidak satupun yang memberikan efek positif
    b.  Obat anti mikroba Pada umumnya tidak dianjurkan, bahkan dapat mengubah flora usus dan memperburuk diare. Kecuali pada neonatus, anak dengan sakit berat (sepsis), anak dengan defisiensi imunologi dan anak dengan diare kronis yang sangat berat, dianjurkan pemberian antimikroba. Sedangkan metronidazole efektif untuk Giardia lamblia.
    c.   Kortikosteroid Pada anak dengan colitis ulseratif, pemberian enema steroid pada tahap awal memberikan respon yang baik, dan pada beberapa anak mendapat kombinasi dengan steroid sistemik.
    d.  Immunosupressif, seperti Azathioprine digunakan pada penyakit Chron apabila pengobatan konvensional tidak mungkin.
    e.    Kolestiramin Penggunaan kolestiramin sangat bermanfaat pada diare kronik, terutama malabsorbsi asam empedu serta pada infeksi usus karena bakteri (mengikat toksin).
    f.   Operasi Indikasi operasi adalah pada diare kronis pada kasus-kasus bedah seperti penyakit Hirschprung, enterokolitis nekrotikans. Namun hanya dilakukan setelah keadaan umum membaik.
    READMORE - Diare Kronik
     
    Copyright Cangkrukan NengRat_an © 2010 - All right reserved - Using Blueceria Blogspot Theme
    Best viewed with Mozilla, IE, Google Chrome and Opera.| ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free