Hanembah Maring Gusti Allah

++++ Generasi Muda Untuk Bangsa ++++ Selamatkan Generasi Muda dari NARKOBA ++++
Showing posts with label Perempuan. Show all posts
Showing posts with label Perempuan. Show all posts

Perempuan Perkasa dari Wonogiri

Inilah balada Wagiyem, 52. Perempuan asal Wonogiri, Jawa Tengah, yang mengadu nasib di Jakarta ini menikah dengan penjual mi ayam keliling pada 1977. Mereka bekerja keras. Dalam tiga tahun, suami Wagiyem mempunyai 10 gerobak mi ayam. Tahun 1980 mereka melebarkan usaha ke pembuatan mi dan sukses lagi. Tahun 1984 juragan mi itu kawin lagi, meninggalkan Wagiyem.

Meski begitu, keduanya tetap berpatungan dalam usaha pembuatan mi di rumah mereka yang berdekatan di kampung padat di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Tahun 1996 usaha mereka bangkrut akibat merebaknya isu formalin dalam produk makanan. Mantan suami Wagiyem dan istri mudanya pulang ke kampung halaman, Wonogiri. Wagiyem bertahan di Jakarta. Ia membesarkan keempat anaknya dengan melanjutkan usaha pembuatan mi.

Kegigihan Wagiyem tidak sia-sia. Dari produksi yang semula 30 kg mi basah per hari, kini Wagiyem menghasilkan 450 kg. Konsumennya pedagang mi ayam atau mi goreng di kampung Ibu Kota. Wagiyem bisa menyekolahkan keempat anaknya hingga tiga anak meraih gelar sarjana ekonomi dan seorang sarjana sastra Jepang. Ia bahkan juga menghidupi keluarga mantan suami dan istri mudanya, termasuk membiayai pendidikan anak bekas suaminya dengan mengirim sekitar Rp 5 juta tiap bulan kepada mereka. Ia bahkan memberi bantuan modal kepada bekas suami untuk membuka usaha mi di Wonogiri.

“Setiap kali mantan suami saya minta uang, pasti saya beri,” kata Wagiyem. Rupanya, jatuh bangun dalam kehidupan dijalani Wagiyem sebagai lakon kehidupan. “Saya cuma mensyukuri dan menikmati semua ini,” kata Wagiyem.

Balada Wagiyem itu aku kutipkan dari tulisan “Balada Wagiyem dan Perempuan Perkasa” di Kompas (http://64.203.71.11/kompas-cetak/0704/22/kehidupan/3469199.htm) Minggu, 22 April 2007, dengan sedikit penyesuaian.
READMORE - Perempuan Perkasa dari Wonogiri

Perempuan...

anpa mempertentangkan bias gender, kita harus bangga. Perempuan Indonesia ada yang menduduki jabatan Presiden. Di negara majupun, jabatan itu masih terbatas. Belum lagi dengan peluang 30% quota perempuan dalam parlemen. Pahlawati nasional, bahkan juga, sopir-sopir bus kota, pemain sepak bola, dan tentu saja tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri melengkapi profil wanita Indonesia kini.

Dalam kaitan dengan Kongres Wanita Depok 2008, barangkali perlu direnungkan bersama. Apakah peran-peran “setara” seperti itu yang layak dilanjutkan. Karena justru persoalan pengangguran laki-laki lebih berbahaya. Kemajuan peran perempuan harus tetap bertumpu pada sunatullah yang berdasarkan firman Allah (Al Qur’an). Sehingga, walau kadang kita masih sulit memahami; kesetaraan yang ditiupkan berdalih women liberation perlu terus dicermati.

Kita patut prihatin wanita yang bekerja diluar negeri sebagai TKW. Walaupun secara ekonomis hal ini sangat membantu negara, tetapi tidak untuk keharmonisan keluarganya. Berbagai kasus menunjukkan, lebih banyak kerugian akibat wanita bekerja diluar rumah. Sementara lelaki, sebagai kepala keluarga menjadi penunggu rumah. Kita tidak sepakat seluruhnya, bahwa peran domestik itu terjadi karena akibat konstruksi sosial belaka.
Berevolusi
Dunia kerja saat ini memang sedang berevolusi. Pelan tetapi pasti, struktur lapangan kerja telah berubah. Bahkan, hal-hal yang dulu sangat ditentang, kini dapat “dipahami”. Misalnya, wanita tuna susila (WTS) menjadi pekerja seks komersial (PSK). Penghalusan kata penuh permisifisme, menjadi racun atas nama kesetaraan.

Sepertinya ada skenario yang terencana. Seperti dijelaskan oleh Samuel P. Huntington. Dunia ini sedang terjadi perang peradaban (clash civilization) antara Barat dan Timur. Dalam terminologi lain bisa disebut sebagai perang pemikiran (ghozwul fikir). 

Indikasinya, Lembaga donor internasional begitu gencar dan murah hati ketika mendukung gerakan feminisme. Tetapi sangat pelit untuk pengembangan budaya ketimuran. Sistem ekonomi dunia juga mengarahkan, agar perempuan lebih banyak bekerja diluar rumah.

Semestinya negaralah yang harus menciptakan struktur peluang kerja, agar lelaki lebih banyak bekerja diluar rumah. Sehingga dengan demikian para Ibu dengan damai mendidik anak-anaknya dirumah. Saat ini, diberbagai pekerjaan, khususnya industri; mayoritas pekerja adalah perempuan.

Berdasarkan data (2007), pekerja perempuan pada Februari 2007 bertambah 2,12 juta orang dibanding Februari 2006. Kenaikan sangat signifikan. Bandingkan, jumlah pekerja laki-laki hanya bertambah 287 ribu orang. Secara ekonomis partisipasi perempuan dalam dunia kerja meningkat.

Dalam hal pengangguran, pada Februari 2007 tercatat sebesar 9,75 % dari total penduduk. Jumlah tersebut turun 10,28 % dibanding Agustus 2006 (10,28 %), dan turun 10,40 % dibanding Februari 2006. Tingkat pengangguran tertinggi masih terjadi di Pulau Jawa sebesar 10,39 % pada Februari 2007, dan terendah di Bali dan Nusa Tenggara sebesar 5,49 %. Dan tentu saja, dampak pengangguran laki-laki lebih berbahaya. 

http://img696.imageshack.us/img696/7007/batu1s.jpg


READMORE - Perempuan...
 
Copyright Cangkrukan NengRat_an © 2010 - All right reserved - Using Blueceria Blogspot Theme
Best viewed with Mozilla, IE, Google Chrome and Opera.| ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free