Hanembah Maring Gusti Allah

++++ Generasi Muda Untuk Bangsa ++++ Selamatkan Generasi Muda dari NARKOBA ++++
Showing posts with label Kisah Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Kisah Motivasi. Show all posts

Office Boy menjadi Vice President

Biografi Houtman Zainal Arifin - Kisah Office Boy menjadi Vice President Citibank. sosok Houtman Zainal Arifin dilahirkan pada tanggal 27 Juli 1950 di Kota Kediri Jawa Timur, Beliau meninggal pada hari Kamis, 20 Desember 2012. Pengalaman hidupnya yang amat inspiratif patut untuk disimak, yang awalnya ia hanya seorang office boy hingga bisa menduduki jabatan nomor satu sebagai seorang Vice President Citibank. Sekarang beliau berkerja sebagai direksi di perusahaan swasta, pengawas keuangan di beberapa perusahaan swasta, komite audit BUMN, konsultan, penulis serta dosen pasca sarjana di sebuah Universitas. Beliau dilahirkan dari keluarga pas-pasan. Kisah hidup beliau dimulai ketika lulus dari SMA, Hotman merantau ke Jakarta dan tinggal di daerah Kampung Bali dari tahun 1951-1974, Houtman membawa mimpi di Jakarta untuk hidup berkecukupan dan menjadi orang sukses di Ibukota, namun apa daya Di Jakarta ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh.

Menjadi Pedagang Asongan Di Ibukota
Sewaktu tinggal di tanah abang, ayah beliau sakit keras. Orang tuanya ingin berobat, tetapi tidak mempunyai biaya yang cukup. Melihat keadaan seperti itu, beliau tidak mau menyerah. Dengan bermodal hanya Rp 2.000,- hasil pinjaman dari temannya, beliau menjadi pedagang asongan menjajakan perhiasan imitasi dari jalan raya hingga ke kolong jembatan mengarungi kerasnya kehidupan ibukota. Usaha dagangannya kemudian laku keras, namun ketika ia sudah menuai hasil dari usahanya, ternyata Tuhan memberinya cobaan, ketika petugas penertiban datang, dagangannya di injak hingga jatuh ke lumpur. Ketika semua dagangan beliau sudah rusak bercampur lumpur, ternyata teman-temannya yang dari kawula rendah seperti tukang sepatu, tukang sayur, dan lain-lain, beramai-ramai membersihkan dagangan beliau. Disini beliau mulai mendapatkan pengalaman berharga tentang kerasnya kehidupan Ibukota.

Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman kehilangan cita-cita dan impian. Suatu ketika Houtman beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran di jalan Jakarta. Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapih, keren dan berdasi. Houtman remaja pun ingin seperti mereka, mengendarai kendaraan berpendingin, berpakaian necis dan tentu saja memiliki uang yang banyak. Saat itu juga Houtman menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah cita-cita dan tekad diazamkan dalam hatinya. Azam atau tekad yang kuat dari Houtman telah membuatnya ingin segera merubah nasib. Tanpa menunggu waktu lama Houtman segera memulai mengirimkan lamaran kerja ke setiap gedung bertingkat yang dia ketahui. Bila ada gedung yang menurutnya bagus maka pasti dengan segera dikirimkannya sebuah lamaran kerja. Houtman menyisihkan setiap keuntungan yang diperolehnya dari berdagang asongan digunakan untuk membiayai lamaran kerja.

Diterima Di Citibank Sebagai OB (Office Boy)
Sampai di rumah, beliau melihat ada orang gila wara-wiri di sekitar rumah beliau. Orang gila itu hampir nggak pake baju. Beliau pada saat itu cuma punya baju 3 pasang. Hebatnya, beliau ikhlas memberi ke orang gila itu sepasang baju plus sabun plus sisir. Tuhan memang Maha Adil, Pada hari ketiga setelah kejadian tersebut, Tiba-tiba datang surat yang menyatakan bila beliau diterima menjadi OB disebuah perusahaan yang sangat terkenal dan terkemuka di Dunia, The First National City Bank (citibank), sebuah bank bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja sebagai seorang Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor, wc, ruang kerja dan ruangan lainnya.

Biografi Houtman Zainal Arifin, Profil, Vice Presiden Citibank

Waktu jadi OB, beliau melihat training. Karena jabatan beliau hanya OB, beliau tentu tidak dianggap. Bahasa Inggris beliau pun cuma sekedar yes-no. Tapi beliau berprinsip, “Saya harus berbuat. Saya harus pintar.” Setiap hari selama training itu, beliau ada di depan pintu dan mencatat semuanya. Training officer-nya lama-lama jadi menyuruh beliau masuk (tapi secara kasar). Si training officer mengumumkan pada para trainer, “Pengumuman, dia tidak terdaftar dan dia tidak akan diuji,” kata training officer. Mendengarnya, Houtman tidak terima. Dia sudah berada di ruangan yang sama berarti dia sudah menjadi salah satu trainer juga dan juga harus diuji.

Pak Houtman lalu menantang diri beliau sendiri, “Saya harus lulus!” batin beliau. Padahal saingan beliau adalah lulusan UI, Michigan, Ohio, ITB dan banyak universitas TOP lainnya. Sementara beliau, SMA bisa lulus aja udah untung. “Pokoknya harus lulus dan gak boleh jadi yang terakir,” tekad beliau. Tuhan memang Maha Besar, dari 34 orang beliau termasuk 4 besar dan beliau pada tahun 1978 dikirim ke Eropa.

Sebagai Office Boy Houtman selalu mengerjakan tugas dan pekerjaannya dengan baik. Terkadang dia rela membantu para staf dengan sukarela. Selepas sore saat seluruh pekerjaan telah usai Houtman berusaha menambah pengetahuan dengan bertanya tanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai istilah istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat bertanya dia menjadi bahan tertawaan atau sang staf mengernyitkan dahinya. Mungkin dalam benak pegawai ”ngapain nih OB nanya-nanya istilah bank segala, kayak ngerti aja”. Sampai akhirnya Houtman sedikit demi sedikit familiar dengan dengan istilah bank seperti Letter of Credit, Bank Garansi, Transfer, Kliring, dll.

Suatu saat Houtman tertegun dengan sebuah mesin yang dapat menduplikasi dokumen (saat ini dikenal dengan mesin photo copy). Ketika itu mesin foto kopi sangatlah langka, hanya perusahaan perusahaan tertentu lah yang memiliki mesin tersebut dan diperlukan seorang petugas khusus untuk mengoperasikannya. Setiap selesai pekerjaan setelah jam 4 sore Houtman sering mengunjungi mesin tersebut dan minta kepada petugas foto kopi untuk mengajarinya. Houtman pun akhirnya mahir mengoperasikan mesin foto kopi, dan tanpa di sadarinya pintu pertama masa depan terbuka. Pada suatu hari petugas mesin foto kopi itu berhalangan dan praktis hanya Houtman yang bisa menggantikannya, sejak itu pula Houtman resmi naik jabatan dari OB sebagai Tukang Foto Kopi

Menjadi tukang foto kopi merupakan sebuah prestasi bagi Houtman, tetapi Houtman tidak cepat berpuas diri. Disela-sela kesibukannya Houtman terus menambah pengetahuan dan minat akan bidang lain. Houtman tertegun melihat salah seorang staf memiliki setumpuk pekerjaan di mejanya. Houtman pun menawarkan bantuan kepada staf tersebut hingga membuat sang staf tertegun. “bener nih lo mo mau bantuin gua” begitu Houtman mengenang ucapan sang staff dulu. “iya bener saya mau bantu, sekalian nambah ilmu” begitu Houtman menjawab. “Tapi hati-hati ya ngga boleh salah, kalau salah tanggung jawab lo, bisa dipecat lo”, sang staff mewanti-wanti dengan keras.

Akhirnya Houtman diberi setumpuk dokumen, tugas dia adalah membubuhkan stempel pada Cek, Bilyet Giro dan dokumen lainnya pada kolom tertentu. Stempel tersebut harus berada di dalam kolom tidak boleh menyimpang atau keluar kolom. Alhasil Houtman membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut karena dia sangat berhati-hati sekali. Selama mengerjakan tugas tersebut Houtman tidak sekedar mencap, tapi dia membaca dan mempelajari dokumen yang ada. Akibatnya Houtman sedikit demi sedikit memahami berbagai istilah dan teknis perbankan. Kelak pengetahuannya ini membawa Houtman kepada jabatan yang tidak pernah diduganya.

Diangkat Menjadi Pegawai Bank Citibank
Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang diberikan dan selalu mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik. Dia pun ringan tangan untuk membantu orang lain, para staff dan atasannya. Sehingga para staff pun tidak segan untuk membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di Citibank mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi yang dimilikinya, padahal Houtman hanyalah lulusan SMA. Kemudian ia pun di angkat menjadi pegawai di bank Citibank tersebut, Peristiwa pengangkatan Houtman menjadi pegawai Bank menjadi berita luar biasa heboh dan kontroversial. Bagaimana bisa seorang OB menjadi staff, bahkan rekan sesama OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak konsisten. Houtman dianggap tidak konsisten dengan tugasnya, “jika masuk OB, ya pensiun harus OB juga” begitu rekan sesama OB menggugat.

Houtman tidak patah semangat, dicibir teman-teman bahkan rekan sesama staf pun tidak membuat goyah. Houtman terus mengasah keterampilan dan berbagi membantu rekan kerjanya yang lain. Hanya membantulah yang bisa diberikan oleh Houtman, karena materi tidak ia miliki. Houtman tidak pernah lama dalam memegang suatu jabatan, sama seperti ketika menjadi OB yang haus akan ilmu baru. Houtman selalu mencoba tantangan dan pekerjaan baru. Sehingga karir Houtman melesat bak panah meninggalkan rekan sesama OB bahkan staff yang mengajarinya tentang istilah bank.

Biografi Houtman Zainal Arifin, Profil, Vice Presiden Citibank

Menjadi Vice President Citibank Indonesia
Sekitar 19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai Office Boy di The First National City Bank, Houtman kemudian mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice President. Sebuah jabatan puncak Citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi Citibank sendiri berada di USA yaitu Presiden Director yang tidak mungkin dijabat oleh orang Indonesia. Sampai dengan saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor Houtman masuk sebagai OB pensiun sebagai Vice President, dan hanya berpendidikan SMA. Houtman pun kini pensiun dengan berbagai jabatan pernah diembannya, menjadi staf ahli citibank asia pasifik, menjadi penasehat keuangan salah satu gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator bagi banyak orang. Pada hari Kamis tepatnya pada tanggal 20 Desember 2012 Bapak Houtman Zainal Arifin berpulang ke pangkuan Rahmatullah pukul 14.20. Jenazahnya disemayamkan di Jln. H. Buang 33 Ulujami, Kebayoran Lama, Jakarta.

Pelajaran yang dapat dipetik adalah kita tidak akan pernah kekurangan apa bila kita mau saling memberi, jika kita mau bersilaturahmi dan banyak berteman dengan siapa saja kita akan mendapatkan rezeki yang lebih banyak, dan jika kita iklash memberi Allah swt pasti akan memberikan kita sesuatu yang lebih.
READMORE - Office Boy menjadi Vice President

Anakku adalah guruku

Seorang ayah ingin mengajarkan kepada anaknya sejak dini yang baru duduk dikelas 3 SD untuk mengatur uang jajannya. Sang anak diberi uang Rp 30.000 perminggu (termasuk ongkos ojek). Biasanya uang tersebut diberikan sang ayah sehari sebelum anaknya masuk sekolah.

Pada minggu pagi mereka berdua hendak jalan-jalan ke kota untuk menikmati liburan. Sebelum berangkat, tak lupa sang ayah memberikan uang jajan mingguan anaknya dengan tiga lembar uang Rp 10.000. Dan uang tersebut disimpan rapi dalam saku celananya.

Ditengah keasikan sang ayah dan anaknya menikmati hari libur mereka, tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan kedatangan seorang kakek pengemis yangg telah tua renta sambil memelas.
Tak tega melihat sang kakek tua memelas, sang anak dengan sigap langsung mengeluarkan 3 lembar uang 10.000,- dari saku celana dan diberikan seluruhnya.

Kontan saja kakek pengemis ini terlihat sangat senang seraya mengucapkan rasa syukur dan terimakasih yang tak terkira kepada sang anak dan ayahnya ini.

Setelah si kakek tua berlalu, kemudian sang ayah bertanya;
“Sayang, kenapa kamu berikan semua uangmu untuk kakek itu? Bukankah satu lembar saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya hingga nanti malam?”
“Ayah..kalau kakek tua itu ikhlas menerima yang sedikit maka aku ikhlas untuk memberikan yang lebih besar!” Jawab anaknya dengan wajah tersenyum..
“Tek!!!” Hati sang ayah langsung tersentak kaget mendengar jawaban tersebut.
“Nah, terus uang jajanmu untuk seminggu ke depan bagaimana?” Tanya sang ayah mencoba menguji.
“Kan aku masih punya ayah dan bunda! Tidak seperti kakek tua itu yang mungkin hanya hidup sebatangkara di dunia ini.” Balas anaknya.
“Kenapa kamu begitu yakin kalo ayah dan bunda akan mengganti uang jajanmu? Ayah nggak janji loh?” Kembali sang ayah mengujinya.
“Kalo ayah merasa bahwa aku adalah amanah dari Allah yang dititipkan kepada ayah dan bunda, maka aku sangat yakin ayah dan bunda tak akan membiarkan aku kelaparan seperti kakek tua itu..” Jawab sang anak mantap.

Seakan sang ayah tak percaya dengan jawaban dari putranya hingga ia kehabisan kata-kata. Ia tak menyangka jawaban seperti itu keluar dari seorang bocah kelas 3 SD. Ia seperti sedang berhadapan dengan seorang ulama besar dan ia tak bernilai apa-apa ketika berada dihadapannya.
Lalu ia berjongkok dan memegang kedua pundak anaknya..
“Sayang…ayah dan bunda janji akan selalu menjaga dan merawatmu hingga Allah tetapkan batas umur ini. Ayah sangat sayang padamu..” Sambil kedua matanya berkaca-kaca seolah tak kuat menahan haru..

Sambil memegang kedua pipi ayahnya, sang anak membalas,
“Ayah tak perlu berkata seperti itu. Sejak dulu aku sudah tahu bahwa ayah dan bunda sangat mencintai dan menyayangiku. Kelak jika aku sudah dewasa aku akan selalu menjaga ayah dan bunda, dan aku tidak akan membiarkan ayah dan bunda hidup dijalan seperti kakek tua itu…”
Dan air mata sang ayahpun tak terbendung mendengar jawaban tulus dari anaknya. Dipeluklah tubuh mungil itu dengan sangat erat. Dan kedua larut dalam haru dan kasih sayang.
READMORE - Anakku adalah guruku

Ayah.........Maaf bolehkah aku beli waktumu?

Seperti biasa Rudi, kepala cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ianampaknya sudah menunggu cukup lama akan kedatangan ayahnya pulang kerja.
“Kok, belum tidur?” sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imron menjawab, “Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?”
“Lho, tumben, kok nanya gaji  Ayah? Mau minta uang lagi, ya?”
“Ah, enggak. Pengen tahu aja.”
“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja.
Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”
Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya.
“Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 40.000,- dong,” katanya.
“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok,” perintah Rudi.
Tetapi Imron tak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian,
Imron kembali bertanya, “Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?”
“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini?
Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah.”
“Tapi, Ayah…”
Kesabaran Rudi habis. “Ayah bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Imron. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya.
Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, “Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok’ kan bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih.”
“Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama satu minggu ini.”
“Iya,iya, tapi buat apa?” tanya Rudi lembut.
“Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Ayah,” kata Imron polos.
Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat, air matanya mengalir deras, menyesali segala ketidakberdayaannya.
Sahabat yangg disayang Allah, betapa setiap detik kasih sayang Allah telah kita rasakan, sesungguhnya adalah kita diperintah untuk membagi kasih sayang itu kepada orang-orang yang terdekat dengan kita, kepada orang-orang yang kehilangan kasih sayang dan kepada seluruh makhluq di muka Bumi ini, sebagai wujud manifetasi tugas kita sebagai Wakil Allah di muka Bumi.
Sahabat……, andai tugas yang membuat kita menjadi sering meninggalkan buah hati kita, maka jangan sampai  lupa disetiap lelah dan dahaga kita terselip do’a untuk sang buah hati kita, terutama disetiap usai kita beribadah dalam bentuk apapun.
Seorang datang kepada Nabi Saw dan bertanya, ” Ya Rasulullah, apa hak anakku ini?” Nabi Saw menjawab, “Memberinya nama yang baik, mendidik adab yang baik, dan memberinya kedudukan yang baik (dalam hatirnu).” (HR. Aththusi).
http://www.rumah-yatim-indonesia.org
READMORE - Ayah.........Maaf bolehkah aku beli waktumu?

UANG UNTUK BUDI

Di suatu hari Minggu tahun 70-an seorang  remaja datang ke rumah saya. Bocah itu bernama Budi. Ia merupakan keponakan pembantu rumah tangga saya. Setelah mengobrol sana-sini Budi mengutarakan maksud kedatangannya.

“Saya pinjam uang Pak”, katanya. “Saya mau berangkat praktik lapangan di Yogyakarta. Tapi, jika Senin besok tidak bisa melunasi pembayaran, saya tak bisa ikut,” tambahnya.

Budi duduk di tingkat akhir sebuah sekolah menengah kejuruan di Bogor. Praktik lapngan bagi siswa seperti Budi sangatlah penting. Tanpa itu, ia takkan lulus. Tapi, sebagai pegawai negeri pada 1970, gaji saya tidak mencukupi untuk memenuhi keperluan hidup selama satu bulan.  Waktu Budi datang, jumlah uang yang ia perlukan adalah setengah dari sisa uang  yang masih ada untuk melewati hidup selama satu bulan, padahal tanggal gajian masih lama. Saya pun merenungkan permintaannya.

Tak lama kemudian, saya memutuskan untuk memebrikan uang yang dia butuhkan. Jelas, Budi lebih membutuhkan uang itu ketimbang saya. To, saya masih tetap beruntung. Isteri saya bekerja sebagai kepala sebuah apotik. Dari tempatnya  bekerja, ia mendapat fasilitas rumah, mobil dan gaji yang lebih besar dari saya. Artinya, masih ada “pegangan” jika terjadi sesuatu.

Setelah Budi pulang saya berdoa. Masih terngiang dengan jelas “laporan” saya kepada-Nya: “Ya Tuhan, saya tidak tahu apakah tindakan saya ini bodoh atau tidak? Namun saat ini Budi lebih membutuhkan uang itu. Saya percaya rezeki semua makhluk ada pada-Mu.”

Khawatir mengganggu pikiran istri saya, sengaja saya menyembunyikan peristiwa Budi darinya. Keesokan harinya, Senin, kantor saya kedatangan seorang tamu dari salah satu negara tetangga. Ia berminat menanamkan modalnya di Indonesia. Salah satu tujuannya ke Indonesia untuk melihat kondisi hutan di Indonesia secara langsung. Lalu, atasan saya memanggil saya dan mengenalkan saya  kepada tamu itu.  Atasan saya menugasi saya untuk menjadi teman dan pemandu bagi tamu tersebut selama satu minggu. Kami pun memulai perjalanan keesokan  harinya, Selasa.

Sebelum jam kerja usai, tamu tersebut mendekati saya dan memberi amplop sembari berkata, “Ini bekal untuk keluargamu selama kamu mengantar saya.”  Saya tak langsung membuka amplop itu. Setibanya di rumah, baru saya membukanya. Alangkah kagetnya saya, ternyata jumlah uang di dalam amplop itu lima kali lipat  dari uang yang saya pinjamkan kepada Budi.

Keajaiban ini mulai membangkitkan keyakinan saya bahwa Tuhan mengetahui apa yang saya lakukan. Buktinya, Dia membalas dengan berlipat ganda pertolongan yang telah saya berikan kepada orang lain.-

*) Dikutip dari buku “Dengarkan Hatimu Berbisik” karangan Muhammad Kuswanda. Diterbitkan oleh Penerbit Zaman.
READMORE - UANG UNTUK BUDI

Kisah 2 Manusia Super Ibukota

Tanpa disadari terkadang sikap apatis menyertai saat langkah kaki mengarungi untuk mencoba menaklukan ibukota negeri ini. Semoga kita selalu diingatkan, sekedar berbagi cerita orang – orang super dalam keindahan hari ini.

Mereka makhluk – makhluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas jembatan penyeberangan Harmoni, dua sosok kecil berumur kira – kira delapan dan sepuluh tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar – lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan “Terima kasih Om…!” Dan saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka. Kaki – kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki – laik lain itupun menolak dgn gaya yang sama dgn saya, lagi – lagi sayup – sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka, kantong hitam tempat stock tissue daganggan mereka tetap teronggok di sudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta.

Ketika melewatinya dengan lirikan ke arah dalam kantong itu, dua pertiganya terisi tissue putih berbalut plastik transparan. Setengah jam kemudian melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum di wajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang menggayut di langit Jakarta. “Terima kasih ya Mbak, semuanya dua ribu lima ratus rupiah!” tukas mereka, tak lama si wanita meronggoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah. “Maaf, nggak ada kembaliaanya. .. ada uang pas nggak Mbak?” mereka menyodorkan kembali uang tersebut, si Mbak menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih besar menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter. “Om boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan…? suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merongoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian Food Court sebesar empat ribu rupiah. “Nggak punya, tungkas saya…!” lalu tak lama si wanita berkata “Ambil saja kembaliannya, dik…!” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget setengah berteriak ia bilang “Sudah buat kamu saja, gak apa – apa ambil saja…!” namum mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. “Maaf Mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan.. !” Akhirnya uang itu diterima si wanita tersebut karena si kecil pergi meninggalkannya. Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu di genggam saya tentu bukan sepenuhnya milik saya.

Mereka menghampiri saya dan berujar “Om.. tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ke tukang ojek..!”. “Eeeeh.. nggak usah… nggak usah… biar aja…, nih…!” saya kasih uang itu ke si kecil, ia menerimanya tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek. Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak satunya, “Nanti dulu om, biar ditukar dulu… sebentar”. “Nggak apa – apa…, itu buat kalian” lanjut saya. “Jangan… jangan om, itu uang om sama Mbak yang tadi juga” anak Itu bersikeras. “Sudah nggak apa – apa…. saya ikhlas, Mbak tadi juga pasti ikhlas!” saya berusaha menghalangi, namum ia menghalangi saya sejenak dan berlari ke ujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari ke arah saya. “Ini deh Om …. kalau kelamaan, maaf ya…” ia memberikan saya 8 pack tissue. “Lho buat apa…?” saya terbenggong ????“Habis teman saya lama sich Om.. maaf tukar pakai tissue aja dulu” 

Walau dikembalikan ia tetap menolak. Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik hitam tissuenya. Beberapa saat saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribuan. “Terima kasih Om…!” mereka kembali ke ujung jembatan sambil sayup – sayup terdengar percakapan.. ..”Duit Mbak tadi bagaimana ya..?” suara kecil yang lain menyahut “Lu hafal kan orangnya, kali aja kita ketemu lagi ntar kita berikan uangnya” Percakapan itu sayup – sayup menhilang, saya terhenyak dan kembali ke kantor dengan seribuperasaan.

Ya ALLAH …. hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh dan terharu, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra. Mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta tap dengan berdagang tissue. Dua anak kecil yang bahkan belum akil balik, memiliki kemuliaan di umur mereka yang begitu sangat belia. Saya membandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin sedikitpun berkurang rejeki kita meski dalam rejeki itu sebetulnya ada hak atau milik orang lain…. “Usia memang tidak menjamin kita menjadi bijaksana tapi kitalah yang memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak”
READMORE - Kisah 2 Manusia Super Ibukota

SEMANGKUK MIE

Malam itu, Ina bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ina segera kabur dari rumah. Saat berjalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.

Dan saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tapi ia tidak punya uang. Pemilik kedai melihat Ina berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?” “Ya, tapi, aku tidak membawa uang”,  jawab Ina dgn malu…“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu”, jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu.”

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ina segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang. “Ada apa nona?”, tanya si pemilik kedai. “Tidak apa-apa”, aku hanya terharu jawab Ina sambil mengeringkan air matanya.

“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi, tapi ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah. Kau, seorang yang baru kukenal, tapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri”, katanya kepada pemilik kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ina, menarik nafas panjang dan berkata, “Nona, mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya?”

Ina, terhenyak mendengar hal tsb. “Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tsb? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak peduli padanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.”
Ina, segera menghabiskan bakminya, lalu pamit dan tak lupa berterimakasih pada si pemilik kedai. Ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya.

Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg harus diucapkan kepada ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ina, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ina kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tidak memakannya sekarang”. Pada saat itu Ina tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya….

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga), khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita harus berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.
READMORE - SEMANGKUK MIE

GURUKU SEORANG TUKANG BECAK

Aku menunggu istri dan anakkku yang sedang melaksanakan sholat Idul Fitri 1428 H bersama dengan warga Muhamadiyah. Aku sendiri duduk di luar Stadion, berkumpul dengan para Polisi yang sedang bersiaga mengamankan jemaah Muhamadiyah yang akan melaksanakan Sholat Idul Fitri tersebut.

Ketika sholat dan khotbah selesai dilakukan, berduyun-duyun jemaah berjalan keluar dari Lapangan. Mataku tertuju pada seorang tua yang agak kurus, dengan sarung dan kopiah hitam. Wajahnya tampak teduh dan putih, dahinya seekan-akan bercahaya lalu menuju ke becak. Lalu Bapak tua itu melepas sarung dan kopiah hitamnya dan kembali bercelana pendek, dan mengayuh becaknya dan lalu berhenti didepan pintu gerbang. 

Ternyata di pintu gerbang sudah menunggu, dua wanita, yang seorang sudah tua seumur dengannya dan yang satunya masih muda. Dari raut wajah ketahuan bahwa yang muda itu adalah anaknya sedangkan yang tua itu adalah istrinya Ternyata mereka bertiga pergi jamaah sholat Idul Fitri dengan naik becak, sedangkan yang lainnya banyak yang naik mobil mewah.

Ketika ku perhatikan lagi, ada sesuatu yang lain dari Pak Tua itu, wajah yang teduh, dengan senyum yang selalu mengembang, membuat hatiku tergetar. Ya Allah, Engkau telah memberikan sedemikian banyaknya nikmat kepadaku, dibandingkan Pak Tua itu, tetapi kenapa aku masih belum bisa bersyukur kepada-Mu.

Kubandingkan diriku dengan Pak Tua itu, Pak Tua yang sudah tua berumur 60 tahuan, sedangkan aku masih muda berumur 37 tahun, tetapi di dalam dada ini masih bersemayam kesombongan-kesombongan, emosi, ego dan harga diri. Sedangkan Pak Tua itu, meskipun sudah mulai uzur tapi masih dengan semangat pergi Sholat Idul Fitri dengan pakaian yang sederhana dan hanya dengan naik becak tua bersama dengan istri dan anaknya.

Aku masih ingat kata-kata Pak Tua itu ketika akan pulang, “Monggo Mas, kulo wangsul riyin, ngaturaken sugeng riyadi, lahir batin Mas”, (Mari Mas, saya pulang dulu. Selamat lebaran, minta maaf lahir dan batin), sambil mengulurkan tangannya. Aku tidak kenal dengan dia, tapi ketika dia pulang dengan mengayuh becak masih sempat mengucapkan pamit kepadaku yang kebetulan duduk didekat becaknya. Pak Tua itu segera mengayuh becaknya, dengan damainya dan sesekali menyapa jemaah yang berpasan dengannya, dan mataku pun mengikuti becaknya sampai becaknya berbelok dan tidak kelihatan lagi.

Terima kasih Ya Allah, Engkau telah mengutus makhluk-Mu untuk mengajar diriku, Engkau telah membuka mataku melalui Pak Tua, tukang becak itu. Pak Tua itu telah mengajariku untuk selalu senyum, rendah hati dan sabar.
READMORE - GURUKU SEORANG TUKANG BECAK

KISAH TUKANG BAKSO

Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai.. Hujan rintik-rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.

Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor….. terdengar suara tek…tekk.. .tek…suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat…, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak-anak, siapa yang mau bakso?. “Mauuuuuuuuu..”, secara serempak dan kompak anak-anak asuhku menjawab.

Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. 

Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini. “Mang kalo boleh tahu, kenapa uang-uang itu pisahkan? Barangkali ada tujuan?” “Iya pak, memang sengaja saya memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak saya, mana yang menjadi hak orang lain / amal ibadah, dan mana yang menjadi hak cita-cita penyempurnaan iman seorang muslim”. “Maksudnya…?”, saya melanjutkan bertanya.

“Iya Pak, kan agama dan islam menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Sengaja saya membagi 3 tempat, dengan pembagian sebagai berikut :
  1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari untuk keluarga. 
  2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq /sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso saya selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja. 
  3. Uang yang masuk ke kencleng, karena saya ingin menyempurnakan agama yang saya pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar, Maka kami sepakat dengan istri bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini kami harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji.. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi saya dan istri akan melaksanakan ibadah haji.
Hatiku sangat… sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.

Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : “Iya tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu…? termasuk memiliki kemampuan dalam biaya…? Ia menjawab, “Itulah sebabnya Pak, justru kami malu kepada Tuhan kalau bicara soal Rezeki karena kami sudah diberi Rizky. Semua orang pasti mampu kok kalau memang niat..?

Menurur saya definisi “mampu” adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri ebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, “mampu”, maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita kok. “Masya Allah… sebuah jawaban dari seorang tukang bakso”.

Dalam hadits Qudsi,
“Sesungguhnya Allah berfirman: Aku akan mengikuti prasangka hamba-Ku dan Aku akan senantiasa menyertainya apabila berdoa kepada-Ku” (HR. Bukhari Muslim)
READMORE - KISAH TUKANG BAKSO

Kasih Sayang Seorang Ibu

Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi

Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang, Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan: “Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi. Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati”

Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya. Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap. Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan dijatuhi hukuman pancung pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi

Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan “Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosa nya”

Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan. Tapi keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani hukuman. Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan.

Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong-bondong menyaksikan hukuman tersebut. Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya. Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba.

Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang. Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada. Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali lonceng itu mengalir darah Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat. Dengan jantung berdebar2 seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah

Tahukah anda apa yang terjadi?

Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi, dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng.

Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan. Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya.
READMORE - Kasih Sayang Seorang Ibu

Kisah Seorang Ibu Tua

Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.

Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini. "Bu, kita sudah sampai",kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya.

Si ibu , dengan tatapan penuh kasih berkata:"Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang. Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan".
Demi mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan ,merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.

Mungkin cerita diatas hanya dongeng. Tapi di jaman sekarang, tak sedikit kita jumpai kejadian yang mirip cerita diatas. Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya sibuk bisnis dll. Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. kadang hanya dimasukkan panti jompo, dan ditengok jkalau ada waktu saja.

Kiranya cerita diatas bisa membuka mata hati kita, untuk bisa mencintai orang tua dan manula. Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, disaat mereka menunggu waktu dipanggil Tuhan yang maha kuasa. Ingatlah perjuangan mereka pada waktu mereka muda, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini.
READMORE - Kisah Seorang Ibu Tua

Menggapai Ampunan Dengan Mata Terpejam

Indahnya islam memang sebuah kemuliaan yang telah Allah pilihkan. Banyak cara untuk menggapai berjuta keutamaan yang Allah siapkan. Tinggal kita yang memilih. Bahkan di bulan ramadhan yang akan segera menjelang, Allah melipat gandakan setiap kebaikan. Lalu bagaimana menggapai ampunan Allah dengan mata terpejam? Apakah di siang ramadhan kita memanfaatkannya untuk tidur karena letih qiyamullail semalaman? Tidak..!! Bahkan mulai sekarang kita bisa memulainya..

Di Dalam kitab As-Silsilah As-Shohihah Imam Al-Bani hadist no. 3414, ada sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra, bahwa Rosulullah bersabda:

من قال حين يأوي إلى فراشه
لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير لا حول ولا قوة إلا بالله سبحان الله والحمد لله ولا اله إلا الله والله أكبر غفر الله ذنوبه - أو قال : خطاياه شك مسعر - وإن كانت مثل زبد البحر
"Barang siapa yang ketika merebahkan tubuhnya ke tempat tidurnya lalu membaca: ( Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syain qodiir, laa haula walaa quwwata illa billah, subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallah ) Allah mengampuni dosanya atau kesalahannya walaupun seperti buih di lautan".

Imam Ahmad dalam hadist no. 11372, juga meriwayatkan dalam sebuah hadist yang senada dari 'Athiyah bin Abi Said Al-Khudri:
أخرج الإمام أحمد من حديث عطية عن أبي سعيد مرفوعاً من قال حين يأوى إلى فراشه استغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه غفر له ذنوبه وإن كانت مثل زبد البحر وإن كانت مثل رمل عالج وإن كانت عدد ورق الشجر

"Barang siapa yang membaca ketika berbaring di atas kasurnya ( Astaghfirullaal 'azhiim alladzi laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum wa atuubu ilaihi ) Maka akan diampuni dosanya, walaupun seperti buih di lautan atau sebanyak dedaun di pepohonan".

Saat-saat menutup mata untuk mengakhiri hari yang begitu melelahkan untuk berkerja atau mencari nafkah, detik-detik keletihan itu tak melupakan seorang hamba untuk mengingat kembali Penciptanya, mengakui segala kelemahannya, memuji Allah, memuhasabah diri mungkinkah ada dosa yang ia lakukan seharian.. Maka alangkah indah ucapan yang tak membutuhkan beberapa menit itu yang diajarkan Rosulullah kepada kita. Bukan hanya itu, kabar gembira akan keampunan Allah dapat menghibur kita jika esok hari kita tak bangun kembali..

oleh Zulhamdi M. Saad, Lc
READMORE - Menggapai Ampunan Dengan Mata Terpejam

Belajar Sholat Khusyu’ dari Salafusholih

Untuk sholat yang khusyu’ dalam setiap sholat sepertinya suatu hal yang berat. Namun untuk sholat yang khusyu’pun bukanlah suatu hal yang mustahil. Karena ia dapat dilaksanakan jika ada upaya yang dilakukan dengan sungguh-sungguh saat mulai terdengar azan kemudian mulai berwudhu.

Seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf adalah orang yang sangat sederhana dan ia selalu melakukan sholat dengan penuh kekhusyu'an. Namun ia selalu khawatir jika sholatnya kurang khusyu'. Oleh karena itu ia selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih dalam ilmunya beribadah.

Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang ahli ibadah bernama Hatim, kemudian ia bertanya: ”Wahai Abu Abdurrahman, bagaimana cara engkau shalat?"

Hatim berkata: "Apabila masuk waktu shalat aku berwudhu' lahir dan batin."

Dengan penuh penasaran Isam bertanya , "Bagaimana wudhu lahir dan batin itu?"

Hatim menjelaskan, "Wudhu lahir adalah wudhu seperti biasa, yaitu membasuh semua anggota wudhu dengan air. Sementara wudhu batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara, yaitu: Bertaubat, menyesali dosa, tidak tergila-gila dunia, tidak mengharap pujian orang, meninggalkan sifat sombong, meninggalkan sifat khianat dan meninggalkan sifat dengki.

Lalu Hatim melanjutkan: "Kemudian aku pergi ke masjid, aku siapkan seluruh anggota tubuhku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah ada di hadapanku, surga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku, dan aku bayangkan pula bahwa aku seolah-olah berdiri di atas titian 'Shiratul Mustaqim' dan aku menganggap bahwa shalatku kali ini adalah shalatku yang terakhir, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik.

Setiap bacaan dan doa dalam shalat kufahami maknanya, kemudian aku ruku' dan sujud dengan tawadhu', aku bertasyahhud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah cara aku shalat selama 30 tahun."

Setelah mendengan penjelasan Hatim, menangislah Isam karena membayangkan ibadahnya yang masih kurang dibandingkan dengan Hatim.

Semoga Allah memberikan kita untuk dapat melaksanakan sholat dengan khusyu’. Wallahu ‘alam bishowab.
Oleh Zulhamdi M. Saad, Lc
READMORE - Belajar Sholat Khusyu’ dari Salafusholih

Sekeranjang Air Untuk Kakek

Seorang kakek sangat rajin membaca Qur’an tiap pagi.  Dia selalu duduk di meja dapur dan membaca Qur’an-nya.  Cucu laki-lakinya mencoba meniru sang kakek, dengan membaca Qur’an tiap pagi.

“Kakek, saya mencoba membaca Qur’an seperti kakek, tapi saya tidak pernah bisa mengerti. Setiap saat, saya mencoba untuk memahami, tapi setiap saya selesai membacanya dan menutup Qur’an, saya selalu lupa lagi.  Apa untungnya membaca Qur’an ?”

Sang kakek terdiam, dan menjawab,“ Tolong ambilkan air dari sungai dengan keranjang ini, bawakan kakek sekeranjang air,”Sang cucu menuruti apa kata si kakek. Dia mengambil air dari sungai dengan keranjang. Tapi air selalu bocor dan habis sebelum sampai rumah. Kakek tertawa, dan mengatakan dia harus lebih cepat lain waktu. Sang cucu berlari dengan cepat, tapi tetap saja keranjang akan kosong sebelum dia sampai rumah.Kehabisan nafas, cucu mengatakan bahwa tidak mungkin membawa sekeranjang air, dia lalu mencoba mengambil sebuah ember  untuk mengambil air.

Laki2 tua itu berkata, “ Saya tidak mau seember air, tapi sekeranjang air. Kau tidak cukup berusaha keras, “  Meskipun si cucu tahu bahwa itu adalah hal yang sangat tidak mungkin, dia tetap membawakan sekeranjang air secepat mungkin dengan berlari. Tapi Tetap saja air habis sebelum sampai rumah.

“ Kakek, ini sama sekali tidak ada gunanya ! ” Kakek tersenyum, “ Jadi engkau pikir, ini tidak berguna ? coba perhatikan keranjang ini…”

Sang cucu memperhatikan keranjang yang dia bawa, untuk pertama kalinya dia sadar, bahwa keranjang ini sangat berbeda sekarang. Keranjang sudah berubah, dari keranjang kotor, menjadi keranjang yang sangat bersih sekarang, luar dan dalam.

“ Cucuku, Itulah yang terjadi saat kita membaca Qur’an. Engkau mungkin tidak dapat mengerti dan mengingat segalanya, tapi ketika engkau  membacanya, kau  akan berubah menjadi lebih bersih, luar dan dalam.  Itulah yang dilakukan Allah untuk hidupmu. “

Subhanallah. Subhanallah. Subhanallah.

( Sebuah cerita yang tidak sengaja terbaca, saat  mencari tulisan tentang ‘sehat dengan  membaca Qur’an’ )

Sahabat2ku tersayang…….
Mari kita Hijrah ke arah yang lebih baik, agar diri kita bersih luar dan dalam, dibersihkan oleh NYA, dengan semakin rajin membaca petunjuk-NYA, Al-Qur’anul Karim.
Sumber: Butir Tasbih
READMORE - Sekeranjang Air Untuk Kakek

Rahasia Nenek Pemungut Daun

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan.Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya. 

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang. Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. 

Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. "Jika kalian kasihan kepadaku," kata nenek itu, "Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya."

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa  ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.

Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.
"Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai," tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya.

Kisah ini membuat bulu kuduk  saya  merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati,  kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Allah swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah saw? Insya Allah, Bermanfaat dan dapat dipetik Hikmahnya.
READMORE - Rahasia Nenek Pemungut Daun

Anak Petani yang Miskin

Ada seorang anak petani miskin di sebuah sekolah dasar di australia, di sebuah wilayah pedesaan yang cukup terpencil. Beberapa puluh tahun yang lalu, disuatu hari saat anak ini sekolah, sang guru seni menyuruh anak didiknya untuk menggambar rumah impiannya, sangat tidak disangka anak petani miskin ini menggambar rumah yang sangat besar dan mewah. Dengan keyakinan tinggi si anak merasa bahwa gambarnya bagus dan layak mendapatkan nilai A, namun apa yang terjadi ? sang guru memberikan nilai F untuk gambarnya tersebut.

Anak tersebut memprotes sang guru, “Kenapa engkau memberikan aku nilai F padahal rumah yang ku gambar sangat bagus ?” Sang guru menjawab, “Engkau terlalu menghayal! bagaimana mungkin engkau seorang anak petani miskin di desa kecil ini dapat memiliki rumah besar dan mewah seperti itu? sangat tidak masuk akal!!”

Rupanya anak kecil tersebut benar-benar kecewa dengan penilaian gurunya tersebut, namun dia tidak putus asa, kejadian ini membuat dia benar-benar berjuang keras untuk mewujudkan mimpinya.

Di akhir cerita, terbuktilah bahwa anak petani di desa terpencil tersebut berhasil mewujudkan mimpinya, ia sekarang sudah menjadi pengusaha sukses dan berhasil membangung sebuah rumah besar dan mewah seperti yang dahulu diimpikannya. Saat rumah tersebut selesai dibuat, ia mengundang teman-teman dan warga di sekitar rumahnya, termasuk gurunya yang dahulu memberikan nilai F untuk mimpi besarnya. Sang guru hanya bisa terdiam dan tercengang saat melihat sebuah gambar yang sudah lusuh dalam sebuah pigura yang indah, sebuah gambar rumah besar dan mewah dengan nilai F, tulisan tangan sang guru. 

Sahabat! Pelajaran berharga yang bisa kita ambil dari kisah ini adalah jangan pernah berkecil hati jika orang-orang menertawakan mimpi-mimpi kita, jangan takut mengejar mimpi meskipun kita dianggap sebagai orang, miskin, lemah, dan gila. Jangan khawatir, hampir sebagian besar pengusaha sukses dan orang-orang hebat di dunia ini pernah dianggap gila oleh banyak orang. – referensi rahmatmutaha.com
READMORE - Anak Petani yang Miskin

Kisah Wanita Muslimah dan Tukang Besi

Ketika si tukang besi sedang duduk di rumahnya melepas lelah setelah seharian bekerja, tiba-tiba terdengar pintu rumahnya diketuk orang. Si tukang besi keluar untuk melihatnya, pandangannya menubruk pada sesosok wanita cantik yang tak lain adalah tetangganya.

“Saudaraku, aku menderita kelaparan. Jika bukan karena tuntutan agamaku yang menyuruh untuk memelihara jiwa, aku tidak akan datang ke rumahmu. Maukah engkau memberikan makanan padaku karena Allah ?” tutur wanita itu.

Ketika itu, memang tengah datang musim paceklik. Sawah dan ladang mengering. Tanah pecah berbongkah-bongkah. Padang rumput menjadi tandus hingga hewan ternak menjadi kurus dan akhirnya mati. Makanan menjadi langka, maka tak pelak kelaparan melanda sebagian besar penduduk desa itu. Hanya sebagian kecil yang masih bisa bertahan.
“Tidakkah engkau tahu bahwa aku mencintaimu ? Akan kuberi engkau makanan, tetapi engkau harus melayaniku semalam” kata tukang besi itu.

Si tukang besi memang jatuh hati kepada tetangganya itu. Dia merayunya dengan berbagai cara dan taktik, namun tak juga berhasil meluluhkan hati wanita itu.

“Lebih baik mati kelaparan daripada durhaka kepada Allah” ujar wanita itu sambil berlalu menuju rumahnya.

Setelah dua hari berlalu, wanita itu kembali mendatangi rumah si tukang besi dan mengatakan hal yang sama. Demikian pula jawaban si tukang besi itu. Ia akan memberi makanan asalkan wanita itu mau menyerahkan dirinya. Mendengar jawaban yang sama, wanita itupun kembali ke rumahnya.

Dua hari kemudian, wanita itu datang lagi ke rumah tukang besi itu dalam keadaan payah, suaranya parau, matanya sayu, dan punggungnya membungkuk karena menahan lapar yang tiada tara. Ia kembali mengatakan hal serupa. Begitu pula jawaban si tukang besi, sama dengan yang sudah-sudah. Wanita itu kembali ke rumahnya dengan tangan kosong untuk ketiga kalinya.

Ketika itulah Allah memberikan hidayah-Nya kepada si tukang besi “Sungguh celaka aku ini, seorang wanita mulia datang kepadaku, dan aku terus berlaku dzalim kepadanya, “tutur tukang besi dalam hatinya. “Ya Allah aku bertaubat kepada-Mu dari perbuatanku dan aku tidak akan mengganggu wanita itu lagi selamanya”.

Si tukang besi itu bergegas mengambil makanan dan pergi ke rumah wanita itu. Diketuknya pintu rumah wanita itu. Tak lama berselang terlihat pintu terbuka dan muncullah sesosok wanita yang nampak kuyu. Melihat si tukang besi berdiri di depan pintu rumahnya, wanita itu bertanya, “Apa keperluanmu datang ke rumahku ?”

“Aku bermaksud mengantarkan sedikit makanan yang aku punya. Jangan khawatir, aku memberinya karena Allah” jawab si tukang besi.

“Ya Allah jika benar apa yang dikatakannya, maka haramkanlah ia dari api di dunia dan di akhirat” tutur wanita itu seraya menengadahkan kedua telapak tangannya ke langit.

Si tukang besi itu pulang ke rumahnya. Ia memasak makanan yang tersisa buat dirinya. Tiba-tiba secara tak sengaja bara api mengenai kakinya, namun kaki si tukang besi itu tidak terbakar. Bergegas ia menemui wanitu itu lagi.

“Wanita yang mulia, Allah telah mengabulkan doamu” ujar si tukang besi.

Seketika itu, wanita itu sujud syukur kepada Allah.

“Ya Allah Engkau telah mewujudkan doaku, maka cabutlah nyawaku saat ini juga”. Terdengar suara lirih dari mulut wanita itu dalam sujudnya. Allah kembali mendengar doanya. Wanita itupun berpulang ke Rahmatullah dalam keadaan sujud.

Demikianlah kisah seorang wanita yang menjaga kehormatannya meskipun harus menahan rasa lapar yang tiada tara.

Setiap muslimah mestinya dapat mengambil pelajaran berharga dari berbagai kisah wanita shalihah. Merekalah yang harusnya dijadikan suri tauladan dalam kehidupan keseharian, bukan para artis yang menawarkan gaya hidup hedoisme dan materialisme.
READMORE - Kisah Wanita Muslimah dan Tukang Besi

Begitu Mulianya Engkau Ibu

Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, hanya tinggal ibunya yang sudah tua dan anak laki-lakinya saja yang saling menopang.

Ibunya bersusah payah membesarkan seorang anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, anaknya tersebut hanya diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih sayang menunggui anaknya sambil menjahitkan baju untuk sang anak.

Saat memasuki musim gugur, adalah waktu bagi anaknya untuk memasuki sekolah menengah atas. Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah. Di sekolah itu, setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa 30 kg beras untuk dibawa ke kantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibunya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.
Berkatalah ia kepada ibunya: " Bu, saya mau berhenti sekolah saja dan membantu ibu bekerja disawah". Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata : "Niat kamu sungguh mulia nak, kamu memiliki niat seperti itu saja ibu sudah senang, tetapi kamu tetap harus sekolah. Jangan khawatirkan ibu ya nak. Cepatlah pergi daftarkan ke sekolah nanti berasnya biar ibu yang akan mengantarkannya kesana".

Karena anaknya tetap bersikeras tidak mau mendaftar ke sekolah, ibunya pun menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh ibunya. Dengan berat hati, akhirnya anaknya pergi juga kesekolah. Ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.

Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya datang kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari pundaknya, pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya lalu mengambil segenggam beras tersebut dan menimbangnya. Tiba tiba dia berkata : " Hai wali murid, kami tidak menerima beras yang isinya campuran beras dan gabah. Jangan menganggap kantin saya ini tempat penampungan beras campuran". Begitu malu nya sang ibu ini, hingga tak henti hentinya berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tadi.

Awal bulan berikutnya ibu ini memikul sekantong beras dan masuk kedalam kantin. seperti biasanya beras tersebut diteliti oleh pengawas. Dengan alis yang mengerut, ibu pengawas berkata: "Masih dengan beras yang sama". Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya".

Sang ibu sedikit takut dan berkata : "Ibu pengawas, beras dirumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana? Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata : "Berapa luas sawah yang ibu kerjakan, sehingga berasnya bisa bermacam macam seperti ini". Mendengar sindiran pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.

Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali ke sekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata: "Kamu sebagai wali murid kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu !"

Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: "Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis".

Mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dilihatnya ibu tua tadi duduk diatas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.

Ibu renta tersebut menghapus air mata dan berkata: "Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku sehingga mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi."

Selama ini saya tidak pernah memberi tahu sanak saudara yang ada dikampung sebelah. Lebih-lebih untuk mengatakannya pada anakku, aku takut melukai harga dirinya.

Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat, aku pergi ke pasar, tempat orang berjualan beras, hanya untuk mengemis beras beras yang tercecer di trotoarnya. Dengan susah payah aku mendatangi toko demi toko hanya utnuk mencari ceceran itu. Sampai hari sudah gelap, akupun pelan-pelan kembali kekampung sendiri. Sehingga sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul memenuhi syarat untuk diserahkan kesekolah.

Pada saat ibu tua itu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata: "Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu."

Sang ibu buru- buru menolak dan berkata: "Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini."

Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam- diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah Tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi Qing hua dengan nilai 627 point.

Dihari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk diatas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang.

Yang lebih aneh lagi disana masih terdapat tiga kantong beras. Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan sebuah kisah tentang seorang ibu yang mengemis beras demi sekolah anaknya. Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata kepada para hadirin seraya menunjuk pada ibu tadi : "Inilah sang ibu dalam cerita tadi."

Dan mempersilakan sang ibu yang luar biasa tersebut untuk naik keatas mimbar. Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat ke arah gurunya yang sedang menuntun ibunya berjalan keatas mimbar.

Sang ibu dan sang anakpun saling bertatapan. Pandangan ibu yang hangat dan lembut kepada anaknya membuat sang anak tak kuasa untuk menahan tangisnya, dipeluknya sosok tua dihadapannya itu dan merangkul erat ibunya sambil terisak seraya berkata: "Begitu mulianya engkau Ibu, sungguh aku tak bisa untuk membalasnya.
Sumber:  situslakalaka
READMORE - Begitu Mulianya Engkau Ibu

Will Smith, From Zero To Hero

KapanLagi.com - Will Smith adalah salah satu dari segelintir orang yang menikmati keberhasilan di dalam tiga bidang hiburan besar di Amerika Serikat. Newsweek menyebutnya sebagai aktor paling hebat di planet ini. Smith sendiri telah dinominasikan untuk satu Golden Globe, dua Academy Award, dan telah memenangkan banyak Grammy. Suami Jada Pinkett yang telah dikaruniai tiga orang anak ini memang patut diberi acungan jempol.

Awal Karir

Terlahir dengan nama Willard Christopher Smith Jr pada tanggal 25 September 1968 di Pennsylvania. Ditilik dari ilmu astrologi, 25 September merupakan tanggal yang melahirkan banyak selebritis hebat dan terkenal. Tanggal lahir Smith sama dengan Michael Douglas, Catherine Zeta Jones, Barbara Walters, Heather Locklear, dan Christopher Reeve. Mungkin memang takdir Smith untuk menjadi orang terkenal.

Smith mulai dikenal sebagai seorang rapper dengan nama Fresh Prince di akhir 1980-an. Perannya di TV yang paling diingat hingga sekarang adalah sebagai Will Smith (namanya sendiri) dalam 'The Fresh Prince of Bel-Air'.

Will Smith

Setelah bertemu dengan DJ Jazzy Jeff di sebuah tempat pesta, mereka lalu membuat musik yang indah bersama-sama. Membuat mereka memenangkan grammy pertama pada 1989 dan mengulang sukses dengan Summertime pada 1991.

Merambah Dunia Film

Sebenarnya Smith pernah hampir bangkrut pada 1990 hingga kemudian jaringan TV NBC mengontraknya dan menciptakan sebuah sitkom berjudul 'The Fresh Prince of Bel-Air'. Pertunjukan itu berhasil membuat karir aktingnya meluncur pesat.

Will Smith

Peran utama pertamanya didapatkannya dalam SIX DEGREES OF SEPARATION. Kemudian dia terus membintangi film-film blockbuster yang memang laris di pasaran seperti INDEPENDENCE DAY (1996) dan MEN IN BLACK (1997).

Menyesal Tolak Peran Neo

Smith menolak peran Neo dalam THE MATRIX, namun saat melihat kesuksesan Keanu Reeves dalam film tersebut dia menyatakan bahwa Reeves memang terlahir untuk menjadi Neo. Namun Smith juga tidak menampik jika dirinya menyesali penolakan tersebut dan lebih memilih membintangi WILD WILD WEST yang lebih banyak mendapat kritikan daripada acungan jempol tersebut.

Will Smith

Tapi kemudian Smith meraih kembali kehebatannya dengan menjadi peran utama dalam MEN IN BLACK II, BAD BOYS II, HITCH, dan I, ROBOT.

Penghargaan

Smith adalah satu-satunya artis hip hop yang menerima nominasi Oscar dalam kategori akting (Best Actor, ALI, 2001) atas perannya sebagai petinju Muhammad Ali dalam film biografinya.

Dia sekali lagi dinominasikan sebagai Best Actor atas perannya dalam film kisah nyata lainnya, THE PURSUIT OF HAPPINESS.

Will Smith

Pada 2005, Smith masuk ke dalam catatan Guiness Book of World Records karena memecahkan rekor tiga premier dalam jangka waktu 24 jam. Pada 14 Desember 2007, film I AM LEGEND yang dibintanginya dirilis. Walaupun film itu mendapatkan tanggapan yang beragam, namun pendapatan pembukaannya merupakan yang terbesar di Amerika Serikat selama Desember itu.

HANCOCK

Will Smith

Film teranyar Smith yang telah dirilis minggu ini adalah HANCOCK. Film ini bercerita tentang seorang superhero pemabuk yang berkeinginan membantu tapi selalu berakhir buruk. Di sini Smith sekali lagi harus membuktikan kehebatannya dalam memerankan karakter kuat ciri khas blockbuster seperti film-filmnya yang sebelumnya. (from web/npy)
READMORE - Will Smith, From Zero To Hero

From Zero to Hero!! Suara Emas Ted Williams, Pengangguran jadi Kebanjiran Pekerjaan

From Zero to Hero!! Suara Emas Ted Williams, Pengangguran jadi Kebanjiran Pekerjaan [FOTO + VIDEO]. wow!! Keren.. kala sang waktu sudah menyapa maka semua bisa berubah total.. Ted Williams Seorang pria pengangguran dan gelandangan mengaku memiliki suara yang sangat indah. Ketika seseorang dari Columbus Dispatch menemukannya, semua yang mendengar suaranya pun ternganga.

From Zero to Hero!! Suara Emas Ted Williams, Gelandangan jadi Kebanjiran Pekerjaan [FOTO + VIDEO]
Pria bernama Ted Williams berusia 48 tahun dan merupakan mantan penyiar radio sebelum akhirnya obat-obatan dan minuman keras menghancurkan hidupnya. Namun, ia dengan tegas menyatakan dirinya sudah bersih dari obat-obatan dan minuman keras sejak dua tahun lalu.
“Tolong saya memiliki suara emas yang diberikan Tuhan. Saya mantan penyiar radio yang memiliki masa-masa sulit. Tolonglah saya. Segala bentuk bantuan akan sangat berarti. Terima kasih dan Tuhan memberkati. Selamat liburan,” demikian disampaikannya kepada perwakilan Columbus Dispatch usai diberikan uang.
Setelah video tersebut beredar sejumlah email dan panggilan telepon masuk dan memintanya siaran. Namun, saat Columbus Dispatch kembali ke sana, Williams sudah tak ada di sana. Mereka kemudian meminta agar siapapun yang pernah melihatnya menghubungi ke bagian Columbus Dispatch. Meski videonya baru di-upload 3 Januari lalu di YouTube, kini sudah mencapai 1.166.834 hits.


From Zero to Hero!! Suara Emas Ted Williams, Gelandangan jadi Kebanjiran Pekerjaan [FOTO + VIDEO]

Pria Pengangguran Bersuara Emas Dapat Tawaran dari ESPN

Pria pengangguran dan gelandang yang ditemukan di jalan saat seorang wartawan menyusuri jalan Kota Columbus, Ohio, Amerika Serikat (AS) akhirnya mendapatkan pekerjaan.
Selama bertahun-tahun, pria bernama Ted Williams ini terpaksa harus meminta-minta karena tak memiliki pekerjaan setelah terjerat masalah narkoba dan minuman keras. Video yang dibuat seorang wartawan dari koran daerah Columbus Dispatch bernama Doral Chenoweth III di-upload ke YouTube dan menarik perhatian sejumlah orang di negara itu.
“Ketika saya berusia 14 tahun, saya mendengar seorang penyiar radio dan kemudian pergi bertemu dengannya. Ia tidak seperti terlihat apa yang didengar orang,” ujar pria kelahiran Brooklyn, New York.
“Saya kemudian mengatakan hal itu kepadanya dan ia mengatakan, dengar, radio adalah teater pikiran,” katanya. Ia kemudian memutuskan bersekolah sebagai penyiar.
Video Chenowith mencapai popularitas setelah link itu di-posting ke Twitter oleh stasiun radio 1310 The Ticket Radio. Kini,Williams menerima banyak tawaran pekerjaan seperti dari MTV, NFL, dan juga ESPN.
“Bos saya mengatakan, jika saya tidak segera mempekerjakannya, maka saya dipecat,” ujar Kevin McLoughlin, direktur pascaproduksi film untuk National Football League.
“Saya tidak menjamin namun saya sangat suka memberikan tawaran pekerjaan kepadanya,” katanya. Cleveland Cavaliers memberikan tawaran kerja ke Williams sebagai stadium announcer. Juru bicara klub Ted Carper mengatakan detil tawaran itu akan segera diselesaikan dan mereka akan menawari Williams secepat mungkin.


From Zero to Hero!! Suara Emas Ted Williams, Gelandangan jadi Kebanjiran Pekerjaan [FOTO + VIDEO]

Gelandangan Bersuara Emas Ted Williams Banjir Tawaran
Gelandang bersuara emas yang mencapai popularitas setelah videonya wara-wiri di YouTube, Ted Williams, mendapat tawaran bermain film bersama aktor papan atas Hollywood, Jack Nicholson.
Seperti dilansir Herald Sun, Jumat (7/1/2011), Williams asal Columbus, Ohio, Amerika Serikat (AS), mendapat banyak tawaran dalam video yang direkam oleh reporter harian Columbus Dispatch. Sejumlah tawaran yang membanjiri pria usia 53 tahun ini antara lain penyiar untuk klub NBA, Cleveland Cavaliers, dan juga tawaran iklan Kraft Macaroni & Cheese yang akan disiarkan pada Minggu, pekan ini.
“Sebagai faktanya, Jack Nicholson sudah mengontak salah satu ipar saya mengenai apa yang terjadi di Columbus, Ohio,” katanya saat diwawancarai program berita Entertainment Tonight.
Berita ini diterima Williams setelah ia bertemu ibunya, Julia Williams (92), di New York, untuk pertama kalinya dalam 20 tahun terakhir. Ia berteriak,” mommy, mommy,” dalam pertemuan emosional di sebuah ruang konferensi di Manhattan. Kini video Williams di YouTube sudah mencapai 11 juta hits.

sumber : http://www.tribunnews.com/2011/01/07/gelandangan-bersuara-emas-ted-williams-banjir-tawaran
READMORE - From Zero to Hero!! Suara Emas Ted Williams, Pengangguran jadi Kebanjiran Pekerjaan
 
Copyright Cangkrukan NengRat_an © 2010 - All right reserved - Using Blueceria Blogspot Theme
Best viewed with Mozilla, IE, Google Chrome and Opera.| ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free