Manajemen Marah
Posted by
widodosarono
Labels:
Psikiatri
Siapa sih yang tidak pernah marah? Tentu semua orang pernah mengalaminya. Bahkan hampir setiap hari kita pernah marah. Menurut Adjeng Lasmini B Tjahyono SPsi, psikolog dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, emosi secara garis besar dibedakan menjadi dua macam – emosi yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Amarah tergolong yang tidak menyenangkan.
Siapa sih yang suka dimarahi? Tentu semua orang tidak mau dimarahi. Kita semua menginginkan keadaan yang tenang, tidak suka terganggu, bahkan cenderung tutup kuping atau menghindar jika ada orang yang sedang melampiaskan marahnya.
Lantas harus diapakankah amarah kita? Harus bagaimana kita menyikapi jika kita sedang marah?
Menurut Adjeng, ada “cara marah” yang sehat yang dinamakan ‘Manajemen Marah’. Adapun langkah-langkah sebagai berikut:
1. Tahan Reaksi
Marah berawal dari dalam. Jika terasa ada yang tidak beres di hati, tariklah nafas dalam-dalam dan panjang kemudian hembuskan perlahan-lahan melalui mulut dan jangan melakukan apa-apa. Karena, jika rasa tidak menyenangkan itu kita turuti melalui respon tindakan atau ucapan, yang muncul adalah amarah yang terkelola.
2. Identifikasi
Amarah yang datang dari dalam dan tanpa nama. Setelah menarik nafas panjang dan dalam, menghembuskan pelan-pelan, cobalah rasakan apa yang sedang kita rasakan kemudian kita coba beri nama. Contohnya, “Oh, saya ‘marah’nih”. Atau “Aku cemburu, nih”, dan sebagainya. Identifikasi ini guna mengantarkan kita untuk memilih-milih apakah perasaan objektif atau subjektif. Dengan ini akan memberikan peluang kognitif kita untuk ikut campur. Otak kita akan menggerakkan apakah lantaran canda teman atau memang hinaan. Dari sini, kita bisa menyadari, “Ah, saya saja yang terlalu sensitif, nih”. Dan sebagainya.
3. Gunakan Bahasa Otak
Adjeng menyebutkan ‘marah dengan cara dewasa’, yakni memanfaatkan bahasa otak –mengungkapkannya dalam bahasa verbal yang jelas dan informatif. Dan bukan bahasa otot yang bersifat destruktif, konfrontatif, menyerang, yang pada akhirnya hanya akan menimbulkan kemarahan di pihak lain.
4. Buka Ventilasi Emosi
Meski kadang sudah menggunakan bahasa otak dan diterima, amarah masih saja tersisa. Inilah saatnya kita membuka ventilasi emosi. Cara paling sederhana, sehat dan alamiah adalah dengan menangis. “Menangislah karena bila Anda mengalami nyeri perasaan yang tidak bisa dikeluarkan lewat tangis, maka tubuh Anda yang terlemah akan menggantikannya,” ujar Adjeng. Contohnya, maag menjadi nyeri, atau asma. Penyakit yang muncul dari organ lemah itu, menurut Adjeng adalah cara tubuh ‘menangis’ karena kita tidak mengeluarkannya dengan air mata.
Adapaun cara yang lain, curhat dengan sahabat, menulis pada buku diary, atau dengan berolahraga, misalnya golf, tenis, tenis meja, bola voli, bulutangkis dan olahraga lain yang membuat kita bergerak dengan suatu objek.
5. Ubah Persepsi Diri
Jika semua cara di atas belum juga menuntaskan amarah, yang harus kita lakukan adalah mengubah diri, terutama pikiran kita. Bisa dengan membuat perbandingan, menguatkan pikiran dan mengklaim hak kita untuk merasakan bahagia atau senang. Misalnya, dengan mengatakan pikiran positif pada diri kita sendiri, “Mengalah bukan berarti kalah”. Atau “Daripada membuang-buang energi untuk hal satu ini, mending saya mengerjakan sesuatu yang lebih bermanfaat”. Atau “Bagaimanapun juga, saya ini jauh beruntung daripada dia (yang membuat kita marah)”.
Dan yang tidak tidak penting adalah sikap Islam (surrender), yakni pasrah. Saat kita pasrah, kita menyerahkan segala sesuatunya kepada kekuatan Allah SWT, seraya berkata, “Semoga hamba kuat dan sabar dalam menerima semua ini ya Allah”.
Selamat mencoba!!
http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2084860-manajemen-marah/
Siapa sih yang suka dimarahi? Tentu semua orang tidak mau dimarahi. Kita semua menginginkan keadaan yang tenang, tidak suka terganggu, bahkan cenderung tutup kuping atau menghindar jika ada orang yang sedang melampiaskan marahnya.
Lantas harus diapakankah amarah kita? Harus bagaimana kita menyikapi jika kita sedang marah?
Menurut Adjeng, ada “cara marah” yang sehat yang dinamakan ‘Manajemen Marah’. Adapun langkah-langkah sebagai berikut:
1. Tahan Reaksi
Marah berawal dari dalam. Jika terasa ada yang tidak beres di hati, tariklah nafas dalam-dalam dan panjang kemudian hembuskan perlahan-lahan melalui mulut dan jangan melakukan apa-apa. Karena, jika rasa tidak menyenangkan itu kita turuti melalui respon tindakan atau ucapan, yang muncul adalah amarah yang terkelola.
2. Identifikasi
Amarah yang datang dari dalam dan tanpa nama. Setelah menarik nafas panjang dan dalam, menghembuskan pelan-pelan, cobalah rasakan apa yang sedang kita rasakan kemudian kita coba beri nama. Contohnya, “Oh, saya ‘marah’nih”. Atau “Aku cemburu, nih”, dan sebagainya. Identifikasi ini guna mengantarkan kita untuk memilih-milih apakah perasaan objektif atau subjektif. Dengan ini akan memberikan peluang kognitif kita untuk ikut campur. Otak kita akan menggerakkan apakah lantaran canda teman atau memang hinaan. Dari sini, kita bisa menyadari, “Ah, saya saja yang terlalu sensitif, nih”. Dan sebagainya.
3. Gunakan Bahasa Otak
Adjeng menyebutkan ‘marah dengan cara dewasa’, yakni memanfaatkan bahasa otak –mengungkapkannya dalam bahasa verbal yang jelas dan informatif. Dan bukan bahasa otot yang bersifat destruktif, konfrontatif, menyerang, yang pada akhirnya hanya akan menimbulkan kemarahan di pihak lain.
4. Buka Ventilasi Emosi
Meski kadang sudah menggunakan bahasa otak dan diterima, amarah masih saja tersisa. Inilah saatnya kita membuka ventilasi emosi. Cara paling sederhana, sehat dan alamiah adalah dengan menangis. “Menangislah karena bila Anda mengalami nyeri perasaan yang tidak bisa dikeluarkan lewat tangis, maka tubuh Anda yang terlemah akan menggantikannya,” ujar Adjeng. Contohnya, maag menjadi nyeri, atau asma. Penyakit yang muncul dari organ lemah itu, menurut Adjeng adalah cara tubuh ‘menangis’ karena kita tidak mengeluarkannya dengan air mata.
Adapaun cara yang lain, curhat dengan sahabat, menulis pada buku diary, atau dengan berolahraga, misalnya golf, tenis, tenis meja, bola voli, bulutangkis dan olahraga lain yang membuat kita bergerak dengan suatu objek.
5. Ubah Persepsi Diri
Jika semua cara di atas belum juga menuntaskan amarah, yang harus kita lakukan adalah mengubah diri, terutama pikiran kita. Bisa dengan membuat perbandingan, menguatkan pikiran dan mengklaim hak kita untuk merasakan bahagia atau senang. Misalnya, dengan mengatakan pikiran positif pada diri kita sendiri, “Mengalah bukan berarti kalah”. Atau “Daripada membuang-buang energi untuk hal satu ini, mending saya mengerjakan sesuatu yang lebih bermanfaat”. Atau “Bagaimanapun juga, saya ini jauh beruntung daripada dia (yang membuat kita marah)”.
Dan yang tidak tidak penting adalah sikap Islam (surrender), yakni pasrah. Saat kita pasrah, kita menyerahkan segala sesuatunya kepada kekuatan Allah SWT, seraya berkata, “Semoga hamba kuat dan sabar dalam menerima semua ini ya Allah”.
Selamat mencoba!!
http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2084860-manajemen-marah/