Hanembah Maring Gusti Allah

++++ Generasi Muda Untuk Bangsa ++++ Selamatkan Generasi Muda dari NARKOBA ++++

From Zero to Hero

Siapa yang kenal dengan Abdelbaset Ali Mohmet al-Megrahi? Kalau di tanya pada anak-anak muda generasi sekarang, mungkin tak ada yang mengenal dia. Tapi, pada tahun 1988, orang ini menjadi terkenal karena menjadi satu-satunya orang yang di putus bersalah sebagai pelaku pengeboman pesawat Pan Am Boeing 747 AS dan menewaskan 270 orang di atas kota Lockerbie, Scotlandia. Kemudian, siapa juga yang mengenal Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono, dua pelaku teroris yang di tembak mati Tim Detasemen khusus anti teror 88 di Jati Asih Bekasi. Bersama Nurdin M Top dan pelaku-pelaku teroris lainnya, mereka menjadi "most wanted people" di Indonesia.

Nah, apa yang menjadi kesamaan dari kisah Megrahi dan Air Setiawan-Eko Sarjono selain mereka adalah pelaku teroris di negaranya masing-masing? Ternyata cara penyambutan mereka yang bagaikan pahlawan. Pada hari Jumat (21/8) kemarin, Megrahi di sambut bagaikan pahlawan setiba di Libya setelah di bebaskan dari penjara Skotlandia dengan alasan kemanusiaan. Sambutan hangat warga Libya ini membuat berang Inggris dan Amerika i. Sementara itu, pekik akbar masyarakat yang menyambut kedatangan jenasah Air dan Eko pun tak kalah serunya. Bahkan di depan rumah Eko terdapat spanduk "selamat datang pahlawan islam". Ustad Abu Bakar Ba'asyir pun mengatakan "insya Allah, Eko mujahid".

Dari dua kisah ini, saya kemudian termenung, ternyata banyak pemahaman tentang arti pahlawan mengalami penyempitan makna. Dulunya saya (dan mungkin anda) berpikir bahwa pahlawan adalah mereka-mereka yang berjuang dengan jiwa raga mempertaruhkan nyawanya demi tanah air ini. Sehingga sejak kecil kita sudah terbiasa dengan pahlawan nasional, pahlawan perjuangan, pahlawan revolusi dan sebagainya. Lalu, apakah arti pahlawan itu? Pahlawan adalah orang yang sangat gagah berani. "Pejuang yang gagah berani atau yang terkemuka", demikian kata WJS. Purwodarminto mengartikan pahlawan dalam kamus bahasa Indonesia. Ini juga bisa menjadi multi tafsir. Batasan gagah berani dan terkemuka bisa siapa saja kan? Mungkin bagi kita, para teroris itu penjahat, tapi bagi mereka-mereka yang setuju dengan ajaran kekerasan, para teroris itu bisa saja di sebut pahlawan. Ketika dulu kita berusaha mempertahankan Timor-Timur, kita mencap para tentara Fretelin sebagai pengganggu, namun ketika Timor-Timur merdeka, mereka di sebut sebagai pahlawan dengan sambutan kemenangan yang luar biasa di negaranya sendiri.

Tidak salah juga apa yang di katakan Purwodarminto, mereka yang gagah berani. Tapi, ada baiknya kalau tidak saja gagah berani, tetapi gagah dalam akhlak, hati nurani, moral, rasa berkeprimanusiaan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan. Kalau tidak seperti itu, mungkin maling pun bisa di bilang pahlawan seperti kisah Robin Hood.

Mereka yang terlalu sering di lupakan

Ada dua pahlawan lagi yang sering di lupakan. Pahlawan tanpa tanda jasa (guru) dan Pahlawan devisa Negara (TKI). Ironis memang ketika kita mendengar kisah-kisah pilu para TKI yang sering di siksa bahkan mati dengan keadaan yang tragis. Ketika mereka berhasil pulang ke Indonesia dengan keadaan selamat, adakah puluhan,ratusan bahkan ribuan orang menyambut mereka bagaikan pahlawan sama seperti Megrahi ataukah Air dan Eko? Alih-alih di sambut, justru yang ada adalah pemberitaan tentang siapa yang salah, perusahaan mana yang menyalurkan? legal ataukah tidak proses penyaluran TKI? Siapa yang bertanggung jawab?. Sangat kontras ketika kasus Manohara berhasil pulang ke Indonesia. Hampir setiap hari di media televisi, khususnya acara infotainment yang menayangkan tentang dramatisnya usaha pembebasan Manohara (mungkin juga di dramatisir). Dari penyambutan di bandara sampai di arak-arak segala. Lebih tragis lagi, kisahnya di jadikan Sinetron di salah satu stasiun televisi. Dapatkah kita katakan dia (Manohara) sebagai pahlawan? Dalam konteks popularitas, akhirnya Manohara memang menjadi "hero" buat karirnya. Bagaimana dengan TKI kita? Mungkin ada juga yang kisah meloloskan diri dari majikannya lebih tragis dari kisah Manohara. Tapi jangan harap akan di buat sinetron ataukah kisah film.

Lalu bagaimana pula dengan para pahlawan tanpa tanda jasa? Memang sekarang ada sedikit harapan, dengan anggaran 20% APBN untuk pendidikan kita, maka para guru dan dosen bisa menikmati kenaikan gaji. Tetapi, apakah semua bisa menikmatinya? Saya tersentuh dengan kisah Amos Palu, seorang guru di Miangas, perbatasan Indonesia-Philipina i. Ia mengatakan, para guru di perbatasan itu, hanya "bergaji" hasil bumi dari masyarakat dan uang antara Rp.100.000 dan Rp.200.000 hasil iuran orang tua murid. Untuk mendapatkan dana operasional harus ke ibu kota kabupaten, harus melewati lautan dua hari tiga malam. Saya bisa membayangkan, mungkin ketika sampai di ibu kota kabupaten, jangan harap akan ada penyambutan meriah untuk pahlawan tanpa tanda jasa ini. Urusan administrasi yang berbelit-belit sudah siap menanti.. Bagi anda yang sudah menonton film "Laskar Pelangi", mungkin itu juga potret dunia pendidikan yang terlalu sering di lupakan.

Saya berharap, mungkin kita bisa membuka mata dengan kondisi di negara ini. Terserah, mungkin anda bisa membuat pemahaman sendiri tentang pahlawan dalam hidup anda. Orangtua, suami, istri, anak, pacar, sahabat bisa juga menjadi pahlawan-pahlawan tersendiri dalam hidup anda maupun saya. Banyak orang yang lebih layak di anggap "from zero to hero" kan?
 
Copyright Cangkrukan NengRat_an © 2010 - All right reserved - Using Blueceria Blogspot Theme
Best viewed with Mozilla, IE, Google Chrome and Opera.| ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free