Suara Sumbang Kaum Pinggiran
Posted by
widodosarono
Labels:
Orang Pinggiran
Siang itu panas matahari serasa membakar bumi. Pohon-pohon kota yang seharusnya memberi kesejukan, tak mampu berbuat lebih. Belum lagi panas kendaraan yang bagai armada semut sedang membelah kebisingan kota, kian menambah cuaca panas siang itu. Yah … demikianlah keadaan Kota Makassar siang itu, panas dan menggerahkan.
Di sebuah lampu merah, seorang perempuan tua dengan kaleng tua bergelantungan ditangannya. Sesekali kaleng itu disodorkan pada pengendara atau penumpang mobil yang kebetulan berhenti karena terjaring lampu merah.
“Minta sedekahnya Nak … !!!” Demikian suara perempuan yang mungkin pantas disebut dengan nenek-nenek, dengan suara yang setengah memelas. Tampak jelas, bahwa suaranya yang lemah itu bukan karena dibuat-buat. “Mungkin nenek itu sedang lapar,” batinku.
Saya kemudian meminggirkan motor saya di depan sebuah ruko. Dari situ saya terus mengamati tingkah si Nenek itu. Sambil mengamati nenek-nenek tersebut, saya berpikir, “Sungguh berani nenek ini. Bukankah sudah ada Peraturan Daerah di Kota Makassar yang mengatur tentang larangan bagi Anak jalanan dan pengemis beroperasi di tempat umum?”
Nenek itu seolah tak mempedulikan panas yang membakar tubuhnya. Dia terus bergerak dari mobil yang satu dengan mobil yang lain sambil menyodorkan kaleng tua yang dipegangnya. Tampak ada yang memberi recehan, mungkin pecahan 500-an rupiah, atau mungkin 100-an. Ada juga yang memberi lembaran seribu-an.
Kurang lebih 2 jam saya berada di depan ruko memperhatikan sang Nenek. Lalu, saya putuskan untuk mendekat. “Nek … nenek sudah makan?” tanyaku. Dengan suara yang agak lemah, nenek menjawab, “Belum Nak … saya belum makan sejak tadi malam. Uang yang saya dapat sekarang, buat beli obat untuk cucu nenek yang sedang terbaring sakit di rumah.”
Saya kemudian mengeluarkan satu-satunya lembaran rupiah yang ada dikantongku saat itu. “Nek … saya ada sedikit uang, pakailah buat makan,” kataku, sambil menyerahkan uang lembaran 20-ribuan. Air mata nenek itu meleleh turun dipipinya yang sudah keriput. Keriput yang nampaknya bukan hanya karena termakan usia, tapi juga karena beban hidup.
Dari perbincangan saya, nenek itu mengaku tidak punya anak. Adapun anak sakit yang dianggap cucunya itu adalah anak jalanan yang dia pungut karena merasa mempunyai nasib yang sama. Sama-sama sebatang kara.
***
Batinku mendadak berkecamuk. Ada apa dengan negara ini? Mengapa rakyatnya dibiarkan kelaparan? Apa saja yang dibicarakan di Senayan sana hingga mulut para anggota Dewan itu berbusa-busa, yang pada saat bersamaan ada rakyatnya sedang meregang nyawa karena kelaparan?
Ironis. Negeri yang kaya ini ternyata tidak berbanding lurus dengan keadaan rakyatnya. Sangat janggal memang kedengaran, tapi ini adalah kisah nyata. Keadaan dimana rakyat tidak mampu untuk makan, karena tidak ada yang bisa dimakan.
Apa yang salah? Nenek itu punya Bupati/Walikota, punya Gubernur, Punya Menteri, Punya Presiden, Punya anggota DPR/D yang katanya memperjuangkan nasib rakyat seperti si Nenek. Lalu mengapa nenek itu kelaparan?
Apa saja manfaat koalisi, kabinet, dan segenap program kerja pemerintah yang selama ini kedengaran menyejukkan? Apakah semua itu hanya sekedar bayang-bayang harapan yang tak akan pernah jadi nyata?
Ironis, memang. Pemerintah terlalu sibuk berbagi kue kekuasaan. Pemerintah sibuk mencitrakan diri sebagai pemerintah yang bersih (Clean Governance), Pemerintah yang Pro Rakyat, belum lagi pertumbuhan ekonomi 2010 yang katanya signifikan, mencapai 7%, dan segala macam label yang indah-indah.
Sementara rakyat kecil (kaum yang terpinggir) hanya bisa meratapi nasib dengan suara-suara sumbangnya. Mereka hanya menangis karena tak mampu berbuat apa-apa untuk merubah nasib yang menderanya turun-temurun.
Ya … barangkali mereka memang hanya kaum pinggiran yang tidak perlu dipikirkan. Mereka hanya akan merusak citra pemerintah yang terkenal dengan program Pro Rakyat.
Keluhan-keluhan sumbangnya tidak pernah terdengar masuk di ruang sidang yang empuk dan sejuk itu. Suara mereka hanya terdengar di lorong-lorong gelap demokrasi.
by :Irwan Ali di kompasiana
Di sebuah lampu merah, seorang perempuan tua dengan kaleng tua bergelantungan ditangannya. Sesekali kaleng itu disodorkan pada pengendara atau penumpang mobil yang kebetulan berhenti karena terjaring lampu merah.
“Minta sedekahnya Nak … !!!” Demikian suara perempuan yang mungkin pantas disebut dengan nenek-nenek, dengan suara yang setengah memelas. Tampak jelas, bahwa suaranya yang lemah itu bukan karena dibuat-buat. “Mungkin nenek itu sedang lapar,” batinku.
Saya kemudian meminggirkan motor saya di depan sebuah ruko. Dari situ saya terus mengamati tingkah si Nenek itu. Sambil mengamati nenek-nenek tersebut, saya berpikir, “Sungguh berani nenek ini. Bukankah sudah ada Peraturan Daerah di Kota Makassar yang mengatur tentang larangan bagi Anak jalanan dan pengemis beroperasi di tempat umum?”
Nenek itu seolah tak mempedulikan panas yang membakar tubuhnya. Dia terus bergerak dari mobil yang satu dengan mobil yang lain sambil menyodorkan kaleng tua yang dipegangnya. Tampak ada yang memberi recehan, mungkin pecahan 500-an rupiah, atau mungkin 100-an. Ada juga yang memberi lembaran seribu-an.
Kurang lebih 2 jam saya berada di depan ruko memperhatikan sang Nenek. Lalu, saya putuskan untuk mendekat. “Nek … nenek sudah makan?” tanyaku. Dengan suara yang agak lemah, nenek menjawab, “Belum Nak … saya belum makan sejak tadi malam. Uang yang saya dapat sekarang, buat beli obat untuk cucu nenek yang sedang terbaring sakit di rumah.”
Saya kemudian mengeluarkan satu-satunya lembaran rupiah yang ada dikantongku saat itu. “Nek … saya ada sedikit uang, pakailah buat makan,” kataku, sambil menyerahkan uang lembaran 20-ribuan. Air mata nenek itu meleleh turun dipipinya yang sudah keriput. Keriput yang nampaknya bukan hanya karena termakan usia, tapi juga karena beban hidup.
Dari perbincangan saya, nenek itu mengaku tidak punya anak. Adapun anak sakit yang dianggap cucunya itu adalah anak jalanan yang dia pungut karena merasa mempunyai nasib yang sama. Sama-sama sebatang kara.
***
Batinku mendadak berkecamuk. Ada apa dengan negara ini? Mengapa rakyatnya dibiarkan kelaparan? Apa saja yang dibicarakan di Senayan sana hingga mulut para anggota Dewan itu berbusa-busa, yang pada saat bersamaan ada rakyatnya sedang meregang nyawa karena kelaparan?
Ironis. Negeri yang kaya ini ternyata tidak berbanding lurus dengan keadaan rakyatnya. Sangat janggal memang kedengaran, tapi ini adalah kisah nyata. Keadaan dimana rakyat tidak mampu untuk makan, karena tidak ada yang bisa dimakan.
Apa yang salah? Nenek itu punya Bupati/Walikota, punya Gubernur, Punya Menteri, Punya Presiden, Punya anggota DPR/D yang katanya memperjuangkan nasib rakyat seperti si Nenek. Lalu mengapa nenek itu kelaparan?
Apa saja manfaat koalisi, kabinet, dan segenap program kerja pemerintah yang selama ini kedengaran menyejukkan? Apakah semua itu hanya sekedar bayang-bayang harapan yang tak akan pernah jadi nyata?
Ironis, memang. Pemerintah terlalu sibuk berbagi kue kekuasaan. Pemerintah sibuk mencitrakan diri sebagai pemerintah yang bersih (Clean Governance), Pemerintah yang Pro Rakyat, belum lagi pertumbuhan ekonomi 2010 yang katanya signifikan, mencapai 7%, dan segala macam label yang indah-indah.
Sementara rakyat kecil (kaum yang terpinggir) hanya bisa meratapi nasib dengan suara-suara sumbangnya. Mereka hanya menangis karena tak mampu berbuat apa-apa untuk merubah nasib yang menderanya turun-temurun.
Ya … barangkali mereka memang hanya kaum pinggiran yang tidak perlu dipikirkan. Mereka hanya akan merusak citra pemerintah yang terkenal dengan program Pro Rakyat.
Keluhan-keluhan sumbangnya tidak pernah terdengar masuk di ruang sidang yang empuk dan sejuk itu. Suara mereka hanya terdengar di lorong-lorong gelap demokrasi.
by :Irwan Ali di kompasiana